3 Mahasiswa Uii Pebisnis yang kreative dan Menjanjikan

Berbisnis bukan tentang untung atau rugi tapi syurga atau neraka Begitu kata Ceo Dari Maimoon Food industri yang mana bergerak dibidang cemilan dan minimarket syariah ini. Beliau adalah Adi Jetendra yang saat ini masih kuliah di Universitas Ternama Indonesia yakni Universitas Islam Indonesia. Disinilah ia menemukan bisnis2 yang saat ini dan kedepannya akan menjadi terbaik. Salah satunya minimarket SYAMART yang mana beliau mendirikan ini dengan landasan membantu Ukm ukm agar bs menjual produk produk mereka di modern market. Tak hanya itu bisnisnya yang lagi hits saat ini karichips dan sikripsi keripik berbahan tortila ini menjadi pilihan utama kalangan masyarkat dalam hal cemilan ringannya.(je/17) Dibelahan dunia manapun juga semua orang pernah memakai parfum.sabun.odol dll semua ini sangat tergantung pada minyak satu ini yaitu bahan dasarnya Nilam Pengusaha satu ini berasal dari Uii yang menekuni bidang golden oil sebutnya yaitu minyak atsiri begitu info yang kami dapat dari website resmi Uii.ac.id founder nilam socio enterprise ini bermvisi mensejahterakan masyakat dengan cara full 100% keuntungan diberikan ke masyarakat dan program ini akan dimulai di kota kelahirannya yaitu Pekan Baru riau. Niat mulia beliau sangat patut diteladani sebagai sorang pebisnis karena banyak pebisnis yang selalu utamakan keuntungan pribadi dari pada masyarakat sekitar. (Je/17) Untuk dunia pendidikan pun Uii tak lepas dari mahasiswa2 nya yang sangat kreativ. Sebut saja baihaqi ceo dari Lesgood.com aplikasi less privat berbasis android ini sangat menjanjikan sekali. Dimana banyak orang sibuk mendirikan bangunan untuk less maka pemuda satu ini dikarunia Allah ide membangun kursus mata pelajaran apa saja dalam sau sentuhan Dengan harga yang terjangkau dan murah sekali siapa pun bs akses dan nikmati layanan aplikasi hebat ini. Demikian yang kami terima dari penjelasan beliau dari beberapa pertemuan seminar yang ia sampaikan (je/17)

0 komentar:

Kisah Uwais Al Qarni, Pemuda Istimewa di Mata Rasulullah SAW

☆Kisah Uwais Al Qarni, Pemuda Istimewa di Mata Rasulullah SAW☆ “Belum dikatakan berbuat baik kepada Islam, orang yang belum berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tuanya.” Syaikhul Jihad Abdullah Azzam Di Yaman, tinggallah seorang pemuda bernama Uwais Al Qarni yang berpenyakit sopak. Karena penyakit itu tubuhnya menjadi belang-belang. Walaupun cacat tapi ia adalah pemuda yang saleh dan sangat berbakti kepada ibunya, seorang perempuan wanita tua yang lumpuh. Uwais senantiasa merawat dan memenuhi semua permintaan ibunya. Hanya satu permintaan yang sulit ia kabulkan. “Anakku, mungkin Ibu tak lama lagi akan bersamamu. Ikhtiarkan agar ibu dapat mengerjakan haji,” pinta sang ibu. Mendengar ucapan sang ibu, Uwais termenung. Perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh, melewati padang tandus yang panas. Orang-orang biasanya menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan. Lantas bagaimana hal itu dilakukan Uwais yang sangat miskin dan tidak memiliki kendaraan? Uwais terus berpikir mencari jalan keluar. Kemudian, dibelilah seekor anak lembu, kira-kira untuk apa anak lembu itu? Tidak mungkin pergi haji naik lembu. Uwais membuatkan kandang di puncak bukit. Setiap pagi ia bolak-balik menggendong anak lembu itu naik turun bukit. “Uwais gila... Uwais gila..” kata orang-orang yang melihat tingkah laku Uwais. Ya, banyak orang yang menganggap aneh apa yang dilakukannya tersebut. Tak pernah ada hari yang terlewatkan ia menggendong lembu naik-turun bukit. Makin hari anak lembu itu makin besar, dan makin besar pula tenaga yang diperlukan Uwais. Tetapi karena latihan tiap hari, anak lembu yang membesar itu tak terasa lagi. Setelah 8 bulan berlalu, sampailah pada musim haji. Lembu Uwais telah mencapai 100 kilogram, begitu juga otot Uwais yang makin kuat. Ia menjadi bertenaga untuk mengangkat barang. Tahukah sekarang orang-orang, apa maksud Uwais menggendong lembu setiap hari? Ternyata ia sedang latihan untuk menggendong ibunya. Uwais menggendong Ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Makkah! Subhanallah, alangkah besar cinta Uwais pada ibunya itu. Ia rela menempuh perjalanan jauh dan sulit, demi memenuhi keinginan ibunya. Uwais berjalan tegap menggendong ibunya wukuf di Ka’bah. Ibunya terharu dan bercucuran air mata telah melihat Baitullah. Di hadapan Ka’bah, ibu dan anak itu berdoa. “Ya Allah, ampuni semua dosa ibu,” kata Uwais. “Bagaimana dengan dosamu?” tanya sang Ibu keheranan. Uwais menjawab, “Dengan terampuninya dosa ibu, maka ibu akan masuk surga. Cukuplah ridha dari ibu yang akan membawaku ke surga.” Itulah keinginan Uwais yang tulus dan penuh cinta. Allah subhanahu wata’ala pun memberikan karunia untuknya. Uwais seketika itu juga sembuh dari penyakit sopaknya. Hanya tertinggal bulatan putih ditengkuknya. Tahukah kalian apa hikmah dari bulatan disisakan di tengkuknya Uwais tersebut? Ituah tanda untuk Umar bin Khaththab dan Ali bin Abi Thalib, dua sahabat Rasulullah untuk mengenali Uwais. Beliau berdua sengaja mencari di sekitar Ka’bah karena Rasulullah berpesan, “Di zaman kamu nanti akan lahir seorang manusia yang doanya sangat makbul. Kalian berdua, pergilah cari dia. Dia akan datang dari arah Yaman, dia dibesarkan di Yaman.” “Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kamu durhaka pada ibu dan menolak kewajiban, dan meminta yang bukan haknya, dan membunuh anak hidup-hidup, dan Allah, membenci padamu banyak bicara, dan banyak bertanya, demikian pula memboroskan harta (menghamburkan kekayaan).” (HR Bukhari dan Muslim) Uwais Al Qarni pergi ke Madinah Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Uwais Al Qarni sampai juga di kota Madinah. Segera ia mencari rumah Nabi Muhammad. Setelah ia menemukan rumah Nabi, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam, keluarlah seseorang seraya membalas salamnya. Segera saja Uwais Al Qarni menyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata Nabi tidak berada di rumahnya, beliau sedang berada di medan pertempuran. Uwais Al Qarni hanya dapat bertemu dengan Siti Aisyah r.a., istri Nabi. Betapa kecewanya hati Uwais. Dari jauh ia datang untuk berjumpa langsung dengan Nabi, tetapi Nabi tidak dapat dijumpainya. Dalam hati Uwais Al Qarni bergejolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi dari medan perang. Tapi kapankah Nabi pulang? Sedangkan masih terniang di telinganya pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu,agar ia cepat pulang ke Yaman, “Engkau harus lepas pulang.” Akhirnya, karena ketaatanya kepada ibunya, pesan ibunya mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi. Karena hal itu tidak mungkin, Uwais Al Qarni dengan terpaksa pamit kepada Siti Aisyah r.a., untuk segera pulang kembali ke Yaman, dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi. Setelah itu, Uwais pun segera berangkat pulang mengayunkan lengkahnya dengan perasaan amat sedih dan terharu. Peperangan telah usai dan Nabi pulang menuju Madinah. Sesampainya di rumah, Nabi menanyakan kepada Siti Aisyah r.a., tentang orang yang mencarinya. Nabi mengatakan bahwa Uwais anak yang taat kepada orang ibunya, adalah penghuni langit. Mendengar perkataan Nabi, Siti Aisyah r.a. dan para sahabat tertegun. Menurut keterangan Siti Aisyah r.a. memang benar ada yang mencari Nabi dan segera pulang ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Nabi Muhammad melanjutkan keterangannya tentang Uwais Al Qarni, penghuni langit itu, kepada sahabatnya, “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah ia mempunyai tanda putih di tengah telapak tangannya.” Sesudah itu Nabi memandang kepada Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khaththab seraya berkata, “Suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.” Waktu terus berganti, dan Nabi kemudian wafat. Kekhalifahan Abu Bakar pun telah digantikan pula oleh Umar bin Khaththab. suatu ketika Khalifah Umar teringat akan sabda Nabi tentang Uwais Al Qarni, penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kembali sabda Nabi itu kepada sahabat Ali bin Abi Thalib. Sejak saat itu setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib selalu menanyakan tentang Uwais Al Qarni, si fakir yang tak punya apa-apa itu. yang kerjanya hanya menggembalakan domba dan unta setiap hari? Mengapa Khalifah Umar dan sahabat Nabi, Ali bin Abi Thalib selalu menanyakan dia? Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka. Suatu ketika, Uwais Al Qarni turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu pun tiba di kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang baru datang dari Yaman, segera Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais Al Qarni turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu mengatakan bahwa Uwais ada bersama mereka, dia sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib segera pergi menjumpai Uwais Al Qarni. Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib memberi salam. Tapi rupanya Uwais sedang salat. Setelah mengakhiri salatnya dengan salam, Uwais menjawab salam Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib sambil mendekati kedua sahabat Nabi tersebut dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah dengan segera membalikan telapak tangan Uwais, seperti yang pernah dikatakan Nabi. Memang benar! Tampaklah tanda putihdi telapak tangan Uwais Al Qarni. Wajah Uwais nampak bercahaya. Benarlah seperti sabda Nabi. Bahwa ia adalah penghuni langit. Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib menanyakan namanya, dan dijawab, “Abdullah”. Mendengar jawaban Uwais, mereka tertawa dan mengatakan, “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya?” Uwais kemudian berkata, “Nama saya Uwais Al Qarni”. Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. akhirnya Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib memohon agar Uwais membacakan doa dan Istighfar untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada Khalifah, “Saya lah yang harus meminta do’a pada kalian”. Mendengar perkataan Uwais, “Khalifah berkata, “Kami datang kesini untuk mohon doa dan istighfar dari Anda”. Seperti dikatakan Rasulullah sebelum wafatnya. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais Al Qarni akhirnya mengangkat tangan, berdoa dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menampik dengan berkata, “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.” Fenomena ketika Uwais Al Qarni Wafat Beberapa tahun kemudian, Uwais Al Qarni berpulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan di mandikan, tiba-tiba sudah banyak orang yang ingin berebutan ingin memandikannya. Dan ketika di bawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana pun sudah ada orang-orang yang sudah menunggu untuk mengafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburannya, di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa ke pekuburannya, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk menusungnya. Meninggalnya Uwais Al Qarni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak kenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais Al Qarni adalah seorang yang fakir yang tidak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu. Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya, “Siapakah sebenarnya engkau Wahai Uwais Al Qarni? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir, yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya sehari-hari hanyalah sebagai pengembala domba dan unta? Tapi, ketika hari wafatnya, engkau menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal.mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya.” Berita meninggalnya Uwais Al Qarni dan keanehan-keanehan yang terjadi ketika wafatnya telah tersebar kemana-mana. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya, siapa sebenarnya Uwais Al Qarni. Selama ini tidak ada orang yang mengetahui siapa sebenarnya Uwais Al Qarni disebabkan permintaan Uwais Al Qarni sendiri kepada Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib agar merahasiakan tentang dia. Barulah di hari wafatnya mereka mendengar sebagaimana yang telah di sabdakan oleh Nabi, bahwa Uwais Al Qarni adalah penghuni langit. Begitulah Uwais Al Qarni, sosok yang sangat berbakti kepada orang tua, dan itu sesuai dengan sabda Rasulullah ketika beliau ditanya tentang peranan kedua orang tua. Beliau menjawab, “Mereka adalah (yang menyebabkan) surgamu atau nerakamu.” (HR Ibnu Majah). M. Haromain, Alumnus Pondok Pesantren Lirboyo Kediri

0 komentar:

SAUDI VERSUS INDONESIA

*SAUDI VERSUS INDONESIA* Secara akal, dari segi wilayah, Indonesia sepuluh kali lipat lebih luas dari Saudi Dari segi kekayaan alam, Indonesia punya apel, asem, belimbing wuluh, cermai, dukuh, enau, flamboyan, gandaria, honje, kecapi, labu, mangga, nanas, okra, pisang, quince, rambai, sirsak, terong ungu, vanilla, wuni, pepaya, pala, alpukat, jambu, jeruk, bangkuang, semangka, nangka, duren, dan ribuan buah lainnya Saudi, hanya punya buah kurma Indonesia, sepanjang mata memandang ijo royoroyo, menghampar pohon yang rindang, kayu yang kuat, dan sayur mayurnya Saudi, sepanjang mata memandang kering kerontang, gersang, berdebu berbatu-batu Indonesia, di bawah bumi ada minyak bumi, gas, batubara, nikel, perak, tembaga, alumunium, timah, besi, emas dan intan Saudi, hanya punya minyak bumi Indonesia, di atas bumi ada minyak kelapa, minyak sawit, minyak jagung, dan minyak kedelai, minyak orang-aring, minyak jelantah apalagi, Saudi, hanya punya minyak zaitun Bro.... Indonesia, sepanjang tahun cuaca segar Saudi, musim panas membakar kulit, musim dingin meremukkan tulang Indonesia punya ayam, bebek, burung, puyuh, merak, kijang, kambing, sapi, kerbau, gurame, lele, ikan mas, belut, dan mujair Saudi, hanya punya kambing, sapi dan unta Indonesia, punya 17ribu pulau Saudi, gak punya satu pulau pun Indonesia, dikelilingi lautan penuh ikan, kerang, kepiting, rumput laut dan mutiara Saudi, hanya secuil sambungan dari Laut Merah Kenapa Saudi yang penduduknya sedikit kaya raya? Kenapa Saudi yang wilayahnya kecil kaya raya? Kenapa Saudi yang hanya punya pohon kurma kaya raya? *Jawabnya adalah ketika adzan berkumandang*... Lihatlah... _*Dimana petani Indonesia ketika adzan berkumandang*_ dan dimana petani Saudi ketika adzan berkumandang _*Dimana pedagang Indonesia ketika adzan berkumandang*_ dan dimana pedagang Saudi ketika adzan berkumandang _*Dimana pejabat Indonesia ketika adzan berkumandang*_ dan dimana pejabat Saudi ketika adzan berkumandang Seharusnya _/Indonesia lebih makmur_ dari _Saudi,_ secara akal fikiran. Tapi karena Indonesia, tidak ada keberkahan maka walaupun gemah ripah, alamnya kaya raya, ijo royoroyo penduduknya miskin dan berhutang.... Saudi, walaupun negerinya kering kerontang dan gersang tapi penduduknya kaya raya dan bisa memberi hutang..... Dan *Indonesia makin tepuruk dan nyaris terkutuk* lantaran _*meninggalkan sholat tepat waktu dan berjamaah*_ *Hayo bangkit saudaraku*... *Back to masjid* Lihat Saudi... Masjidnya makmur.... Rakyatnya makmur.... Apa engkau tidak melihat?!.... *Turki mulai bangkit dan makmur* karena warganya kini _*sholat berjamaah di mesjid*_ *Alloh SWT berfirman :* وَأْمُرْ اَهْلَكَ بِالصَّلٰوةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ؕ لَا نَسْئَلُكَ رِزْقًا ؕ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ؕ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوٰى "Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan sholat (tepat waktu) dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya (berjamaah di mesjid). Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu dan akibat (sholat seperti) itu adalah kebaikan (karunia, rezeki, keberkahan, ampunan, dan pahala) bagi orang yang bertakwa". *(QS. Thaahaa : 132)* *Ayo mulai saat ini* kita niatkan bersama-sama ajak saudara laki-laki muslim kita untuk _*jaga Sholat 5 waktu tepat waktunya dan berjamaah di Masjid*_ Bila anda Muslim, *Share* Agar Indonesia menjadi negara yang *kaya raya* disebabkan dari Ketaqwaan Rakyatnya _*Aamiin Yaa Rabbal'Aalamiin*_ 🙏🏼🙏🏼🙏🏼

0 komentar:

Karichips dan Syamart Jadi Usaha Unggulan Berbasis Syariah

Karichips dan Syamart Jadi Usaha Unggulan Berbasis Syariah
18 April 2017/ Berbisnis meski masih berstatus mahasiswa kini menjadi suatu hal yang tidak mustahil. Seperti dicontohkan oleh seorang mahasiswa UII, Adi Tejendra. Mahasiswa Prodi Ekonomi Syariah UII itu kini tengah menekuni bisnis pembuatan makanan ringan, keripik yang mengusung brand Karichips. Tidak hanya itu, ia juga tengah serius mengembangkan gerai minimarket modern yang diberi namaSyamart. Kedua lini bisnis ini menjadi andalannya untuk meraih keuntungan. Pemuda asal Jambi ini bercita-cita mengembangkan usaha berbasis syariah lewat kedua bisnis tersebut. Dikisahkan Bang Adi, begitu sapaan akrabnya bahwa dirinya sudah mengenal dan memiliki kemauanberbisnis sejak duduk di bangku sekolah. Sejak menginjakkan kaki di Jogja pada tahun 2012 silam, ia pun mulai menggeluti berbagai macam bisnis. Kesibukan mengikuti kuliah tidak menyurutkan niat pemuda kelahiran tahun 1992 untuk berbisnis. “Berbagai jenis usaha pernah saya jalani. Seperti menjual masakan fried chicken yang di kos dan membuka gerai makanan jagung manis. Sayangnya kedua usaha ini hanya bertahan selama 3 bulan sebelum gulung tikar”, kisah Adi kepada Humas UII pada Ahad (16/4). Tidak patah arang, ia pun kembali dengan ide baru yakni membuat cafe bagi pecinta buah durian. Cafe bernama Gena Duren itu sempat tersebar di 7 cabang walaupun akhirnya juga kandas. Cafe terakhir yang ia kelola justru menjadi awal dari munculnya karichips yang menjadi salah satu menu di cafe tersebut. Mendulang Sukses dari si keripik Turki, Karichips Belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, Adi Tejendra mulai fokus membangun Karichips. “Karichips sendiri merupakan sebuah snack keripik tortilla Turki yang awalnya bernama Eljefa. Keripik ini memiliki berbagai macam varian rasa yang menggugah selera”, ungkapnya. Brand keripiknya sekarang sudah masuk ke pasar modern dengan menggandeng gerai Indomaret di 130 toko cabangnya. Rencananya Adi Tejendra juga ingin memasarkan keripiknya di level nasional dengan menggandeng gerai retail lainnya, seperti Lotte Mart, Circle K, dan Alfamart. Tidak mengherankn jika Karichips kini setiap bulannya mencetak omset hingga puluhan juta rupiah. Bahkan jika sudah mapan, ia juga berambisi melebarkan sayap pasar hingga ke Qatar dan Yordania. Syamart Berdayakan Produk Unggulan UMKM Bisnis lain yang juga dijalani oleh Adi adalah gerai minimarket Syamart. Yang unik dari Syamart adalah gerai ini menerapkan sistem mudorobah atau kedua belah pihak dapat diuntungkan bersama maupun dirugikan bersama. Syamart menampung produk-produk UMKM yang selama ini kesulitan masuk ke pasar. “Kemaslahatan bersama merupakan salah satu kunci dari Syamart ini dengan memberikan keuntungan kepada masyarakat sekitar seperti memberikan akses masuk terhadap produk dan masyarakat tidak akan takut tersaingi”, katanya. Syamart tidak akan hadir di sekitar toko warga merupakan bentuk implementasi dari kemaslahatan bersama. Adi membeberkan beberapa kunci utama dari bisnis yang dijalaninya. “Orang melakukan usaha harus jujur, apa adanya dan percaya pada Allah. Jujur dan bersikap apa adanya kepada relasi bisnis akan memperkuat kepercayaan orang. Keimanan merupakan pengikat dengan takwa kepada Allah SWT”, jelasnya. Selain itu ia juga meyakini bahwa berbisnis harus siap berbagai, karena seluruhnya rezeki yang didapat terdapat sebagian dari hak orang lain. ”Ada banyak manfaat yang bisa kita ambil dari berbisnis seperti membantu orang tua, membuka lapangan pekerjaan, dan alhamdulilah saya dapat membiayai kuliah”, pungkasnya kepada tim Humas UII. (BKP/ESP) Share this entry sumber https://www.uii.ac.id/karichips-dan-syamart-jadi-usaha-unggulan-berbasis-syariah/

0 komentar:

ANIMASI TERBARU "PERANG SEMUT MERAH VS SEMUT HITAM" KEREN BANGET

0 komentar:

Ringkasan Minhajul Muslim (Bab I : Aqidah)

Masalah Aqidah adalah masalah yang sangat urgen sekali dalam ajaran Islam. Selama 13 tahun Rasulullah Saw di Mekkah, masalah inilah yang selalu didakwahkannya dalam berbagai kesempatan, baik secara terang-terangan maupun secara sembunyi-sembunyi. Ia adalah pondasi ke-Islaman seseorang. Jikalau Aqidahnya baik, maka baiklah segala amalannya. Jikalau tidak, maka buruklah segala amalannya, bahkan batal dan terhapus sama sekali. Pembahasan Pertama: Beriman Kepada Allah Swt Hal pertama yang harus diimani oleh seorang mukmin adalah keberadaan Allah Swt. Dialah Rabb segala sesuatu, pencipta langit dan bumi, serta segala sesuatu yang ada di atasnya dan apa yang ada di antara keduanya. Hanya Dialah Rabb satu-satunya. Tiada Rabb melainkan diri-Nya. Dia memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang sangat agung sekali, yang tidak mungkin ditandingi dan disamai siapapun. Maha Suci Allah Swt dari segala bentuk kekurangan. Secara umum, ada dua buah dalil besar yang menunjukkan keharusan beriman kepada-Nya: 1)Dalil Naqly a-Allah Swt sendiri yang mengabarkan mengenai keberadaan-Nya, nama dan sifat-Nya, serta ketuhanan-Nya. Pengkhabaran ini bisa Anda dapatkan dalam berbagai ayat-ayat Al-Quran, di antaranya: “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Tuhan semesta alam.” [Al-A’raaf: 45] Dalam ayat ini dijelaskan, bahwa Dialah Rabb kalian, yang menciptakan langit dan bumi selama enam hari, kemudian Dia kembali bersemayam di ‘Arsy-Nya. Selain itu, Dia jugalah yang menentukan perputaran siang dan malam, menganugerahkan mamfaat matahari, bulan dan makhluk lainnya. Semua itu berada dalam pengaturan-Nya. Mengenai ketuhanan-Nya, salah satunya terdapat dalam ayat Al-Quran berikut ini: “Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fir’aun dengan benar untuk orang-orang yang beriman.” [Al-Qashash: 3] Dan mengenai ‘Asma dan Sifat-Nya bisa didapatkan beberapa di antaranya dalam firman-Nya: “Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, yang Maha Suci, yang Maha Sejahtera, yang Mengaruniakan Keamanan, yang Maha Memelihara, yang Maha perkasa, yang Maha Kuasa, yang memiliki segala Keagungan, Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah yang Menciptakan, yang Mengadakan, yang membentuk rupa, yang mempunyai asmaaul Husna. Bertasbih kepadanya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [Al-Hasyr: 22-24] b-Pemberitahuan para Nabi dan Rasul mengenai keberadaan Allah Swt, ketuhanan-Nya, nama dan sifat-Nya. Ada sekitar 120 ribu Nabi dan Rasul, dan semuanya menyampai kabar yang sama mengenai ketuhanan Allah Swt, keesaan-Nya, nama-Nya dan sifat-Nya. Dengan jumlah yang begitu banyak dan isi berita yang sama, maka tidak mungkin ada kedustaan dan kebohongan di dalam penyampaian mereka. Ini adalah kenyataan yang tidak mungkin dibantah siapapun. c-1 Milyar lebih umat Islam meyakini keberadaan Allah Swt, ketuhanan-Nya, nama-Nya dan sifat-Nya. Dengan jumlah yang begitu banyak, tidak mungkin ada kedustaan di antara mereka. Kebenaran akan selalu tampak dan nyata, sedangkan kebatilan akan hilang dan lenyap. Pengakuan 1 Milyar lebih umat Islam adalah bukti konkret, bahwa beriman kepada Allah Swt adalah suatu kebenaran yang tidak mungkin bisa digugat. d-Pemberitahuan jutaan para Ulama mengenai wujud Allah Swt, ketuhanan-Nya, nama-Nya dan sifat-Nya. Jutaan Mesjid di bumi, dan jutaan juga majelis ilmu di negeri-negeri Islam, semuanya menyampaikan dengan tegas dan terang-terangan, bahwa Allah Swt itu adalah Rabb. Tidak ada Rabb melainkan diri-Nya, dan hanya Dialah satu-satunya yang berhak disembah, yang memiliki berbagai Asma’ dan Sifat yang agung. 2)Dalil ‘Aqly a-Ada berbagai jenis planet dan berbagai jenis makhluk, dan tidak ada seorangpun yang mengklaimnya kecuali Allah Swt. Apakah Anda percaya bahwa semua ini terjadi dengan sendiri saja, tanpa ada yang menciptakan? Tentu tidak, karena pada hakikatnya Anda sendiri juga diciptakan dan bagian dari alam semesta yang besar ini. Cobalah Anda perhatikan langit, kemudian lihatlah mataharinya, bulannya dan bintang-bintangnya, kemudian tanyalah diri Anda sendiri; apakah ia ada begitu saja?! b-Ada firman Allah Swt di antara para makhluk-Nya. Sekarang Anda mendapati Al-Quran Al-Karim di tengah-tengah Anda. Pertanyaannya, apakah mungkin ada perkataan tanpa ada yang mengatakannya? Apakah mungkin ada firman tanpa ada yang menfirmankannya? Yah, kalam-Nya menunjukkan keberadaan-Nya. Inilah yang harus Anda baca, Anda fahami dan Anda amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Di dalamnya terkandung petunjuk yang akan menjelaskan kepada Anda mengenai mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang harus Anda tempuh dan mana yang harus Anda jauhi. c-Adanya sistem kehidupan yang sangat luar biasa sekali Coba Anda bayangkan, bagaimana jikalau seandainya matahari tidak terbenam, atau ia tidak pernah terbit sama sekali? Bagaimana jikalau bintang itu tidak muncul di langit dan menampakkan kelap-kelip cahayanya? Bagaimana jikalau sebuah planet beredar bukan pada jalurnya? Yah, alam ini akan hancur, karena perjalanannya tidak seimbang. Dan manusiapun akan mengalami kematian dan kehancuran, karena apa yang dibutuhkan oleh tubuh mereka dari alam ini tidak terpenuhi. Nah, disitulah bukti nyata bagi orang-orang yang berakal, bahwa alam ini diatur oleh Zat yang Maha Hebat, yaitu Allah Swt. Pembahasan Kedua: Mengimani Rububiyyah (ketuhanan) Allah Swt Seorang muslim harus menyakini ketuhanan Allah Swt, bahwa Dialah yang Rabb segala sesuatu yang ada di alam semesta ini. Tiada Rabb melainkan diri-Nya. Ini bisa dibuktikan juga dengan dua dalil nyata: 1)Dalil Naqly a-Pemberitahun Allah Swt mengenai ketuhanan-Nya. Dia sendirilah yang memberitahukan kepada para hamba-Nya, bahwa Dialah Rabb segala sesuatu yang ada di alam ini. Semuanya berada di bawah kendalinya. Jikalau Dia mengatakan ada, maka akan terjadilah apa yang diinginkan-Nya. Jikalau Dia mengatakan tiada, maka akan terjadilah ucapan-Nya itu. Dalilnya bisa Anda dapati dalam berbagai ayat Al-Quran, di antaranya: “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” [Al-Fatihah: 2] “Katakanlah, ‘Siapakah Tuhan langit dan bumi?” Jawabnya, ‘Allah.” [Ar-Ra’d: 16] [1] b-Pemberitahuan para Nabi dan Rasul mengenai ketuhanan-Nya, kesaksian mereka dan pengakuannya. Siapapun Nabi yang diutus oleh Allah Swt di muka bumi, maka ia pasti menjelaskan mengenai ketuhanan Allah Swt. Ia menyampaikannya secara lansung melalui lisannya kepada umatnya, baik melalui khutbah, penyampain, doa dan sebagainya. Ini bisa Anda saksikan dalam beberapa ayat Al-Quran yeng menjelaskan pengakuan mereka. “Keduanya berkata, ‘Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri Kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” [Al-A’raaf: 23] “Nuh berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka.” [Nuh: 21][2] c-Jutaan para ulama dan para Ahli Hikmah mengimani ketuhanan Allah Swt, dan sebagaimana penulis jelaskan di bagian sebelumnya bahwa mereka tidak akan mungkin bersepakat dalam kedustaan dan kesalahan. d-1 Milyar lebih umat Islam meyakini ketuhanan Allah Swt, bahwa Dialah Rabb segala sesuatu yang ada di alam semesta ini. 2)Dalil ‘Aqly a-Allah Swt sendirilah yang menciptakan segala sesuatu, dan hanya Dialah yang mampu melakukannya. Segala keajaiban yang Anda saksikan di alam semesta ini adalah ciptaan Allah Swt, bahkan hal kecil dan sepele sekalipun. Cobalah Anda lihat nyamuk dan lalat. Dalam pandangan Anda, ia hanyalah hewan kecil yang tidak berguna sama sekali. Namun ketika Anda diminta untuk menciptakannya, apakah Anda mampu? Yah, tentu saja tidak. Anda tidak akan mampu melakukannya, dan tidak akan pernah. Bahkan untuk menyelamatkan diri Anda sendiri saja dari penyakit yang mendera tubuh Anda, Anda tidak mampu melakukannya. Semua kehebatan di jagad raya ini menunjukkan adanya Rabb yang Maha Hebat. b-Hanya Dialah yang mampu memberikan rezki Tidak ada seorangpun yang mampu memberikan rezki di alam semesta ini, kecuali Allah Swt. Semua makhluk yang melata di muka bumi, berenang di lautan dan terbang di udara, semua rezki mereka berada di tangan-Nya. Jikalau Dia ingin memberikan, maka Dia akan memberikannya. Jikalau tidak, maka tidak ada seorangpun yang mampu mengambilnya atau memaksanya. Jikalau Anda sudah mengakui hal ini, maka artinya Anda mengakui bahwa Allah Swt adalah Rabb satu-satunya yang Maha Pemberi Rezki. Tidak ada sekutu-Nya dalam hal ini… c-Persaksikan fithrah manusia Jikala fithrah seorang manusia masih normal, maka ia akan mengakui ketuhanan Allah Swt; bahkan orang-orang kafir sekalipun. Pada hakikatnya, semua yang ada di alam ini tidak akan ada dan tidak ada berada dalam sistem keteraturan yang agung, kecuali ada Rabbnya. “Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’ niscaya mereka akan menjawab, ‘Semuanya diciptakan oleh yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” [Az-Zukhruf: 9] d-Allah Swt lah Penguasa alam semesta ini. Dialah yang mengaturnya dan membolak-baliknya sesuai keinginan-Nya. Ini menunjukkan ketuhanan-Nya, karena ketika seorang manusia lahir, ia tidak memiliki apapun dan tidak juga melakukan melakukan apapun. Ia hanya bisa menerima dan tunduk dengan ketetapan-Nya. Pembahasan Ketiga: Mengimani Uluhiyyah Allah Swt Seorang muslim harus mengimani, bahwa Allah Swt Rabb segala makhluk yang ada semenjak zaman dahulu sampai zaman sekarang, serta orang-orang yang akan hadir di masa depan. Tidak ada Rabb melainkan diri-Nya. 1)Dalil Naqly a-Persaksian Allah Swt mengenai Uluhiyyah-Nya, begitu juga dengan para Malaikat dan pata Ulama. Dalam Al-Quran Al-Karim dijelaskan: “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [Ali Imran: 18] b-Allah Swt memberitahukannya dalam berbagai ayat Al-Quran, di antaranya: “Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur.” [Al-Baqarah: 255][3] c-Pemberitahuan para Rasul, dan mereka mengajak umatnya untuk mengakuinya. Semua Rasul yang diutus oleh Allah Swt, misinya adalah menyampaikan ketuhanan Allah Swt. Tiada Rabb yang layak disembah, melainkan diri-Nya. Dalam Al-Quran Al-Karim dijelaskan perkataan para Rasul kepada kaumnya: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya.” [Al-A’raf: 59][4] 2)Dalil ‘Aqly a-Ketika Anda mengakui, bahwa Allah Swt lah yang menciptakan alam semesta ini dengan segala isinya, maka pada saat bersamaan Anda juga harus mengakui ke-Uluhiyyahan-Nya. Sebagaimana Anda ketahui, bahwa tidak ada seorangpun yang mampu melakukan semisalnya. b-Jikalau semua makhluk itu hanya mampu diberi rezki, dan yang mampu memberinya hanya Allah Swt, maka siapakah yang layak dipertuhan melainkan Allah Swt?! c-Allah Swt memiliki berbagai sifat yang Maha Hebat dan Maha Agung, yang tidak dimiliki selain-Nya. Artinya, hanyalah Dialah yang berhak dipertuhan, sedangkan yang lainnya adalah hamba/budak. Pembahasan Keempat: Mengimani Asma’ Allah Swt dan Sifat-Nya Seorang muslim harus meyakini, bahwa Allah Swt memiliki nama-nama yang mulia dan sifat-sifat yang agung. Anda tidak boleh menakwilkannya, sehingga meniadakan Asma’ dan Sifat-Nya. Dan Anda juga tidak boleh menyerupakannya dengan sifat makhluk, karena Anda akan mensejajarkannya dengan makhluk-Nya. Cukuplah Anda mengakui ‘Asma dan Sifat yang disebutkan-Nya, tidak menambahkannya dan tidak pula menguranginya. 1)Dalil Naqly a-Allah Swt memberitahukan sendiri mengenai Asma’ dan Sifat-Nya. “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai Al-Asma Al-Husna (nama-nama yang terbaik).” [Al-Isra’: 110] b-Pemberitahuan yang disampaikan oleh Rasulullah Saw Banyak sekali hadits yang menyinggung Asma’ dan Sifat Allah Swt, dan kedudukannyapun Shahih dan Sharih, seperti: “Allah Swt tertawa menyaksikan dua orang laki-laki, dimana yang satu membunuh yang lainnya, kemudian keduanya masuk surga.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim] Dalam hadits disebutkan sifat-Nya, yaitu tertawa. Tugas Anda adalah meyakini, bahwa Dia tertawa sesuai dengan kemuliaan-Nya dan keagungan-Nya. Anda tidak usah memikirkan bagaimana caranya dan bagaimana bentuknya. c-Pengakuan para Salaf mengenai sifat Allah Swt, tanpa ada takwil, ta’thil, penafian, penolakan dan sebagainya. Pada suatu hari, seorang laki-laki bertanya kepada Imam Malik Rahimahullah mengenai makna Istiwa’ (bersemayam), maka beliau menjawab: “Istiwa’ itu jelas, caranya itu Majhul, dan bertanya mengenainya adalah bid’ah.” Artinya, cukuplah Anda mengakui dan meyakini apa yang disampai oleh Allah Swt. Jangan ragu, dan jangan pula bimbang. Disinilah hakikat Aqidah sebenarnya. 2)Dalil ‘Aqly a-Allah Swt telah menamakannya diri-Nya dengan nama-nama yang mulia, dan menyifati diri-Nya dengan sifat-sifat yang mulia, maka tugas Anda adalah mengimaninya, tidak menakwilkannya atau menafikannya. b-Alasan utama seseorang yang tidak mengakui sifat Allah Swt adalah takut terjerumus ke dalam Tasybih (menyerupakan-Nya dengan makhluk), namun pada hakikatnya ia telah masuk dalam jurang dalam lainnya, yaitu menafikan sifat-Nya dan Asma’-Nya. c-Mengakui sifat Allah Swt bukan berarti Anda menyamakannya dengan sifat makhluk, karena keduanya memiliki tingkatan yang berbeda, yang tidak mungkin disamakan. Namanya boleh sama, namun hakikatnya beda. Pembahasan Kelima: Mengimani para Malaikat Seorang muslim harus mengimani, bahwa Allah Swt memiliki makhluk yang bernama Malaikat. Mereka diciptakan dari cahaya dan memiliki kedudukan yang mulia di sisi-Nya. Setiap mereka memiliki tugas masing-masing yang telah ditentukan-Nya. Ada yang bertugas menyampaikan wahyu, seperti Jibril. Ada yang bertugas meniup sangkalala, seperti Israfil. Begitu juga dengan para Malaikat lainnya, yang sebahagian mereka disebutkan namanya dalam Al-Quran dan Sunnah, dan sebahagian lainnya tidak. 1)Dalil Naqly a-Allah Swt memerintahkan para hamba-Nya untuk mengimani para Malaikat-Nya. Ini bisa Anda dapatkan dalam beberapa ayat Al-Quran, seperti: “Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari Kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” [An-Nisa: 136][5] b-Rasulullah Saw memberitahukannya melalui hadits-haditsnya, baik berupa perkataan kepada para sahabatnya maupun doa, seperti doanya ketika shalat malam: “Ya Allah, Rabb Jibril, Mikail dan Israfil, Pencipta langit dan bumi, Zat yang mengetahui ghaib dan nyata, Engkaulah yang menetapkan hukum terhadap para hamba-Mu dalam perbedaan yang mereka alami. Tunjukkanlah kebenaran kepadaku dalam perbedaan itu dengan izin-Mu. Engkaulah yang menunjuki siapapun yang Engkau inginkan ke jalan yang lurus.” [Diriwayatkan oleh Muslim] c-Para Malaikat Radhiyallahu ‘Anhum menyaksikan sejumlah Malaikat pada saat perang Badar, dan mereka juga beberapa kali menyaksikan Jibril dalam berbagai bentuk menghampiri Rasulullah Saw. d-1 Milyar lebih umat Islam meyakini apa yang disampaikan oleh Rasulullah Saw, bahwa Malaikat itu ada dan wajib diimani. 2)Dalil ‘Aqly a-Keberadaan para Malaikat tidak bertentangan dengan akal, karena biasanya akal baru akan menolak ketika ada dua hal yang kontradiksi. Sedangkan hal ini tidak ada sama sekali pada Malaikat. b-Banyak bukti-bukti yang menunjukkan keberadaan para Malaikat, di antaranya: -Sampainya wahyu kepada para Nabi dan Rasul. Sebagaimana Anda ketahui, bahwa yang menyampaikan itu adalah Malaikat Jibril, bukan turun dengan sendirinya atau datang secara tiba-tiba. -Mencabut nyawa para makhluk. Nyawa mereka tidak akan keluar dengan sendirinya, kecuali ada yang mencabutnya. Dan itulah tugas Malaikat maut. -Malaikat itu menjaga manusia dari kejahatan Jin dan Setan. Merekalah yang menjaga Anda sepanjang hari dan silih-berganti dari berbagai jenis kejahatan. c-Jikalau Anda tidak mampu melihat sesuatu, bukan berarti ia tidak ada. Misalnya, Anda tidak mampu melihat angin, namun bukan berarti ia tidak ada. Nah, begitu jugalah halnya dengan para Malaikat. Pembahasan Keenam: Mengimani Kitab-Kitab Allah Swt Seorang muslim harus mengimani, bahwa Allah Swt menurunkan wahyu berupa kitab kepada para Rasul-Nya, dan berupa Shuhuf kepada para Nabi-Nya. Di dalamnya memuat berbagai syariah yang ditentukan-Nya untuk para hamba-Nya. Ada empat kitab agung dalam hal ini, yaitu Zabur yang diturunkan kepada Nabi Daud, Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa, Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa, dan Al-Quran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw sebagai penutup para Nabi. Artinya, kitab ini adalah kitab terakhir yang menyempurnakan syariat sebelumnya. 1)Dalil Naqly a-Allah Swt memerintahkan mengimaninya Allah Swt sendirilah yang memerintahkan Anda untuk mengimani kitab-kitab dan suhuf-suhuf yang diwahyukannya. Dalam Al-Quran Al-Karim dijelaskan: “Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. “ [An-Nisa’: 136] b-Pemberitahun Allah Swt. Hal ini dimuat dalam beberapa ayat Al-Quran Al-Karim, seperti: “Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya. Dia menurunkan Al-Kitab (Al-Quran) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil, sebelum (Al-Quran), menjadi petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan Al-Furqaan.” [Al-Furqan: 2-4][6] c-Pemberitahuan Rasulullah Saw dalam berbagai haditsnya. Di antara hadits yang membicarakan hal ini adalah: “Janganlah kalian membenarkan Ahli Kitab dan janganlah menganggap mereka berdusta. Katakanlah, ‘Kami mengimani apa yang diturunkan kepada kami dan apa yang diturunkan kepada kalian. Tuhan kami dan Tuhan kalian adalah satu, dan kita menyerahkan diri kepada-Nya.” [Diriwayatkan oleh Al-Hakim] d-Lebih dari 1 Milyar umat Islam meyakini, bahwa Allah Swt mewahyukan kitab-Nya kepada para Rasul-Nya, dan mereka wajib mengimaninya dengan keimanan yang sempurna. 2)Dalil ‘Aqly a-Fithrah manusia itu membutuhkan Allah Swt untuk menuntun hidupnya dan menunjukinya ke jalan yang benar. Dan itu tidak mungkin didapatkan, kecuali melalui wahyu yang diturunkan-Nya, baik berupa kitab maupun suhuf. b-Para Nabi dan Rasul itu hanyalah manusia biasa. Mereka juga membutuhkan minum, makan dan tidur, serta juga akan mengalami kematian. Artinya, jikalau Allah Swt tidak menurunkan wahyu kepada mereka, maka syariat-Nya akan lenyap seiring kematian mereka. c-Jikalau seorang Rasul tidak membawa kitab kepada umatnya sebagai bukti kenabiannya, maka mudah saja bagi mereka untuk mengingkarinya dan menganggapnya berdusta. Nah, disinilah peranan kitab itu. Pembahasan Ketujuh: Mengimani Al-Quran Al-Karim Seorang muslim harus meyakini, bahwa Allah Swt telah menurunkan sebuah kitab agung kepada manusia paling terbaik, penutup para Nabi dan Rasul, yaitu Muhammad Saw. Ia adalah kitab terakhir dan memuat syariat terakhir, yang menghapus segala jenis syariat-syariat yang ada sebelumnya. Keshahihan isinya dijamin-Nya, sehingga tidak mungkin ada penambahan atau pengurangan; sebagaimana kitab-kitab lainnya. 1)Dalil Naqly a-Pemberitahun Allah Swt Banyak sekali ayat-ayat dalam Al-Quran yang memberitahukan kepada umat Islam, bahwa Al-Quran Al-Karim itu benat-benar dari Allah Swt dan wajib diimani, di antaranya: “Maha suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al-Quran) kepada hamba-Nya, agar Dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” [Al-Furqan: 1][7] b-Pemberitahun Rasulullah Saw Dalam berbagai haditsnya, Rasulullah Saw juga menegaskan kepada para sahabatnya bahwa beliau diberikan wahyu berupa Al-Quran, yang wajib diimani oleh seluruh umatnya, di antaranya: “Ketahuilah, saya diberikan Al-Kitab (Al-Quran) dan semisalnya bersamanya.” [Diriwayatkan Abu Daud] c-Lebih dari 1 Milyar kaum muslimin di dunia ini meyakini, bahwa Al-Quran adalah Kitabullah yang diwahyukan kepada Rasulullah Saw melalaui perantar Malaikat Jibril. 2)Dalil ‘Aqly a-Al-Quran mencakup ilmu yang beraneka ragam Al-Quran itu mengandung berbagai cabang keilmuan yang sangat banyak sekali, seperti ilmu alam, matematika, biologi dan lain-lain. Artinya, ia tidak mungkin dibuat-buat oleh Rasulullah Saw, yang merupakan seorang yang tidak bisa menulis dan membaca. b-Tantangan untuk Jin dan manusia membuat semisalnya Allah Swt menantang para Jin dan manusia agar bisa membuat semisal Al-Quran ini. Tidak usah banyak-banyak, cukup satu ayat saja. Akan tetapi, tidak ada seorangpun di antara mereka yang mampu melakukannya. c-Memberitahukan berita ghaib. Tidak ada yang seorang makhlukpun yang mampu memberitahukan tentang cerita ghaib, seperti kejadian-kejadian yang akan terjadi di masa datang, kecuali Rabb atau Penguasa alam semesta ini. Artinya, semua berita yang ada dalam Al-Quran pasti berasal dari-Nya. d-Jikalau Allah Swt telah menurunkan kitab-kitab sebelumnya, seperti Zabur, Taurat dan Injil, maka tidak mustahil jikalau Dia menurunkan Al-Quran sebagai kitab terakhir kepada Rasulullah Saw, karena dalam kitab-kitab sebelumnya juga telah dijelaskan adanya kitab terakhir. e-Banyak sudah penelitian yang dilakukan, dan ternyata apa yang terdapat dalam Al-Quran sesuai dengan kenyataan yang ada. Ini adalah bukti nyata yang pasti diterima oleh orang-orang yang berakal. Pembahasan Kedelapan: Mengimani Para Rasul Seorang muslim harus mengimani, bahwa Allah Swt telah memilih di antara manusia ini beberapa orang pilihan yang dijadikannya sebagai rasul, yang mendapatkan wahyu dan bertugas menyampaikan risalah Islam ini ke segenap alam. Namun begitu, mereka tetap memiliki fitrah yang sama dengan manusia lainnya, seperti makan, minum, tidur, menikah dan sebagainya. 1)Dalil Naqly a-Allah Swt memberitahukan keberadaan mereka, dan risalah yang mereka bawa. Ini bisa Anda dapatkan dalam beberapa firman-Nya, di antaranya: “Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu.” [Al-Nahl: 36][8] b-Rasulullah Saw memberitahukan sendiri mengenal hal ini, serta mengenai kerasulan para Rasul lainnya. Pada suatu hari, Abu Dzar bertanya kepada Rasulullah Saw mengenai jumlah para Nabi dan Rasul, maka beliau menjawab, “120 ribu, dan 313 rasul di antaranya.” [Diriwayatkan oleh Imam Ahmad] c-Lebih dari 1 Milyar umat Islam di dunia ini, ditambah dengan para Ahli Kitab, meyakininya adanya para rasul yang diutus oleh Allah Swt; walaupun para Ahli Kitab mengingkari kerasulan Muhammad Saw karena kesesatan mereka. 2)Dalil ‘Aqly a-Kasih-sayang Allah Swt menyebabkan-Nya harus mengirimkan para Rasul untuk memperkenalkan ketuhanan-Nya dan kekuasaan-Nya kepada para makhluk-Nya. Tujuannya, agar mereka bisa mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. b-Allah Swt tidak menciptakan jin dan manusia, kecuali agar mereka menyembah-Nya; sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran Al-Karim. Dan itu tidak akan terwujud, kecuali dengan adanya para Rasul yang akan menjelaskan bagaimana cara menyembah-Nya. c-Allah Swt memberikan pahala bagi setiap ketaatan yang dilakukan para hamba-Nya, dan memberikan siksaan bagi setiap maksiat yang mereka lakukan. Artinya, mereka tidak akan mengetahui semua ini, kecuali dengan adanya pengutusan para Rasul yang akan menjelaskannya. Pembahasan Kesembilan: Mengimani Risalah Muhammad Saw Seorang muslim harus meyakini, bahwa Muhammad bin Abdullah bin Abdul Mutthalib Al-Hasyimy Al-Qursy adalah seorang hamba Allah Swt yang ditugaskan sebagai Nabi dan Rasul. Tidak ada Nabi dan Rasul lagi setelahnya. Beliau memiliki beberapa mukjizat untuk membuktikan kebenaran risalahnya dan merupakan penghulu para Nabi. 1)Dalil Naqly a)Persaksikan Allah Swt dan para Malaikat-Nya, bahwa wahyu diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. “(mereka tidak mau mengakui yang diturunkan kepadamu itu), tetapi Allah mengakui Al-Quran yang diturunkan-Nya kepadamu. Allah menurunkannya dengan ilmu-Nya; dan malaikat-malaikat pun menjadi saksi (pula). Cukuplah Allah yang mengakuinya.” [An-Nisa’: 166] b)Nabi Saw memberitahukan kenabiannya, serta memberitahukan bahwa beliau adalah penutup para Nabi. Semua umat manusia wajib menaatinya dan mengikuti syariat yang dibawanya, tanpa ada pengecualiaan. Beliau bersabda: “Saya adalah hamba Allah Swt dan penutup para Nabi.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari] c-Taurat dan Injil menyatakan kenabian Muhammad Saw dan kerasulannya. Ini bukanlah sebuah rahasia lagi, karena setiap orang yang mengkaji kedua kitab ini pasti akan mendapatkannya; walaupun keduanya sudah banyak mengalami perubahan oleh tangan manusia. Allah Swt menjelaskan: “(yaitu) orang-orang yang mengikuti rasul, Nabi yang Ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.” [Al-A’raaf: 157] 2)Dalil ‘Aqly a-Apa salahnya jikalau Allah Swt mengutus Muhammas Saw sebagai Nabi dan Rasul. Bukanlah Dia sudah mengutus ratusan Nabi sebelumnya? b-Keadaan yang dialami para manusia semenjak ditinggalkan oleh Nabi Isa ‘Alaihissalam, mengharuskan adanya Nabi Saw yang memperbaharui syariah sebelumnya dan kembali mengajak ke jalan yang haq. c-Tersebarnya Islam ini dengan cepat ke seluruh penjuru alam adalah bukti nyata bahwa ia bisa diterima dengan mudah oleh umat manusia. Terutama sekali, bisa diterima akal sehat. d-Ajaran-ajaran yang dibawanya menunjukkan kebenaran dan keshahihannya, dan hasil-hasil yang diperlihatkannya menunjukkan bahwa ia benar-benar berasal dari sisi Allah Swt. e-Mukjizat dimiliki oleh Rasulullah Saw menunjukkan, bahwa ia tidak mungkin dimiliki kecuali oleh seorang Rasul, seperti terbelahnya bulan, pohon yang berbicara kepadanya, makanan dan air menjadi banyak karena doanya, dan lain-lainnya. Pembahasan Kesepuluh: Mengimani Hari Akhir Seorang muslim harus mengimani, bahwa hari-hari yang dijalaninya di dunia ini akan mengalami akhir. Hanya saja ia tidak mengetahui kapan waktunya. Ia hanya bisa mengetahui tanda-tandanya yang ditunjukkan oleh Allah Swt. Ketika Hari Kiamat, maka kehidupan dunia ini akan berakhir pada waktu yang sama. 1)Dalil Naqly a-Pemberitahun Allah Swt dalam berbagai ayat Al-Quran, di antaranya: “Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad); maka Jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal? Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” [Al-Anbiya’: 34-35][9] b-Sabda Rasulullah Saw dalam berbagai haditsnya mengenai terjadinya Hari Kiamat, baik berupa tanda-tandanya maupun keadaannya, seperti: “Hari Kiamat itu tidak akan terjadi sampai seorang laki-laki melewati kuburan laki-laki lainnya, kemudian berkata, ‘Alangkah bagusnya jikalau saya menempati posisinya.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari] c-Lebih dari 1 Milyar umat Islam yang pernah berada di dunia ini, baik zaman dahulu maupun zaman sekarang, semuanya mengakui bahwa Hari Kiamat itu pasti akan terjadi dengan bentuk yang sudah dikabarkan oleh Allah Swt. 2)Dalil ‘Aqly a)Bukanlah suatu yang sulit bagi Allah Swt untuk membangkitkan makhluk-Nya setelah kematiannya, karena Dia sendirilah yang menciptakan mereka. b)Adanya hari berbangkit dan hari pembalasan bukanlah sesuatu yang tidak masuk akal, karena unsur-unsur kontradiksi tidak ada pada keduanya. c)Berbagai ketentuan Allah Swt yang bisa Anda saksikan di dunia ini, mulai dari kewajiban beribadah, ancaman, pahala, dan sebagainya, menunjukkan adanya hari berbangkit dan hari pembalasan. Karena jikalau tidak ada, maka apa mamfaat semua ini?! d)Adanya kehidupan dunia ini dengan segala nikmat dan kesengsaraannya menunjukkan, bahwa mutahilnya tidak ada kehidupan setelahnya yang mengandung lebih banyak kenikmatan dan lebih dahsyat kesengsaraannya. Pembahasan Kesebelas: Azab Kubur dan Nikmatnya Seorang muslim harus meyakini segala hal dan kejadian yang ada di dalam kubur, baik berupa nikmat dan azdab, serta pertanyaan Malaikat Mungkar dan Nangkir. Semua itu adalah hak yang harus diyakininya. 1)Dalil Naqly a-Pemberitahuan Allah Swt dalam berbagai ayat Al-Quran, seperti: “Kalau kamu melihat ketika para Malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata), ‘Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar,’ (tentulah kamu akan merasa ngeri). Demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak Menganiaya hamba-Nya.” [Al-Anfal: 50-51][10] b-Pemberitahun Rasulullah Saw dalam berbagai haditsnya, di antaranya: “Jikalau salah seorang di antara kalian meninggal, maka akan diperlihatkan kepadanya tempat duduknya di pagi hari dan sore hari. Jikalau ia adalah penghuni neraka, maka ia adalah penghuni neraka. Jikalau ia adalah penghuni surga, maka ia adalah penghuni surga. Kemudian dikatakan kepadanya, ‘Inilah tempat dudukmu sampai Allah Swt membangkitkanmu di Hari Kiamat.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari] c-Lebih dari 1 Milyar umat Islam dengan segala unsur yang terdapat di dalamnya, baik ulama, pemikir, pemimpin dan masyarakat biasa mempercayai bahwa azab kubur dan nikmatnya pasti ada. 2)Dalil ‘Aqly a)Ketika seorang muslim meyakini adanya Allah Swt dan para Malaikat-Nya, maka mau tidak mau ia juga harus mengimani adzab kubur dan nikmatnya, karena keduanya adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan. b)Semua kejadian yang ada dalam kubur itu adalah sesuatu yang logis, bukan mustahil menurut akal sehat. c)Jikalau seseorang tidur, kemudian ia bermimpi, maka ia bisa merasakan kenikmatan jikalau mimpi itu baik, dan bisa juga merasakan kesengsaraan jikalau mimpi itu buruk. Itu hanyalah mimpi. Tentunya jikalai ia melihatnya lansung, maka ia akan lebih merasakannya lagi. Pembahasan Kedua Belas: Mengimani Qadha’ dan Qadar Seorang muslim harus menyakini Qadha Allah Swt dan Qadar-Nya. Semua kejadian yang ada di alam semesta ini berada dalam kendali-Nya, dan tentunya terjadi dengan keadilan-Nya. Tidak ada seorang hambapun yang dizhalimi-Nya. Apa yang diinginkan-Nya, maka akan terjadi. Dan apa yang tidak diinginkannya, maka tidak akan pernah terjadi. 1)Dalil Naqly a)Banyak sekali firman Allah Swt dalam Al-Quran Al-Karim yang berkaitan dengan Qadha dan Qadar ini, di antaranya: “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” [Al-Qamar: 49][11] b-Sabda Rasulullah Saw dalam berbagai haditsnya yang menjelaskan masalah ini, di antaranya: “Ketika Allah Swt pertama kali menciptakan qalam, maka Dia berfirman kepadanya, ‘Tulis Qadar segala sesuatu sampai terjadi Hari Kiamat.” [Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Daud] c-Lebih dari 1 Milyar umat Islam di dunia ini dengan segala unsurnya meyakini Qadha Allah Swt dan Qadar-Nya terhadap para makhluk-Nya. 2)Dalil ‘Aqly a)Akal tidak akan pernah menolak adanya Qadha dan Qadar, karena kenyataan yang terjadi sehari-hari menunjukkan hal ini. Tanpa adanya Qadar, maka kehidupan ini akan kacau-balau. b)Ketika mengimani Allah Swt sebagai Rabb, maka mau tidak mau Anda juga harus meyakini Qadha-Nya dan Qadar-Nya. c)Seorang manusia biasa saja membuat perencanaan yang matang untuk kerjanya atau programnya, maka bagaimanakah dengan Zat yang Maha Hebat, yang tidak mungkin ditandingin kekuasaan-Nya? Tentu Dia jauh lebih baik lagi, dan tidak bisa dibandingkan dengan makhluk-Nya. Pembahasan Ketiga Belas: Tauhid Ibadah Seorang muslim harus meyakini, bahwa Allah Swt adalah Rabb segala makhluk, baik yang ada di zaman dahulu kala, di zaman sekarang maupun di zaman yang akan datang. Tiada Rabb melainkan diri-Nya. Jikalau Anda meminta, maka memintalah kepada-Nya. Jikalau Anda meminta tolong, maka mintalah pertolongan-Nya. Dan jikalau Anda menghamba, maka menghambalah kepada-Nya. 1)Dalil Naqly a)Perintah Allah Swt dalam berbagai ayat-Nya, agar para hamba-Nya hanya menyembah-Nya, seperti: “Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah aku.” [Thaha: 14][12] b)Pemberitahun Allah Swt dalam berbagai ayat-Nya, di antaranya: “Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu.” [An-Nahl: 36][13] c)Pemberitahun Rasulullah Saw dalam berbagai haditsnya, di antaranya: Taktala Rasulullah Saw mengutus Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu ke Yaman, maka beliau berpesan kepadanya, “Hendaklah dakwah pertama yang engkau sampaikan kepadanya, agar mereka mentauhidkan Allah Swt.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari] 2)Dalil ‘Aqly a)Tidak ada di alam semesta ini yang mampu memberikan rezki, melakukan pengaturan yang baik dan hal-hal istimewa lainnya, kecuali Allah Swt. Artinya, hanyalah Dialah yang berhak di sembah dan dipertuhan. b)Semua makhluk membutuhkannya, maka mau tidak mau Dia harus disembah. c)Ketika Anda berdoa dan menyembah sesuatu yang tidak bisa memberikan apapun kepada Anda, maka bagaimana Anda bisa mempertuhannya. Tuhan itu adalah Zat yang Agung, dan bisa melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan makhluk. Pembahasan Keempat Belas: Wasilah (Perantara) Sebagaimana Anda ketahui, Allah Swt mencintai amal-amal kebaikan dan segala jenis ketaatan. Nah, ketika Anda mengerjakannya, maka jadikanlah ia sebagai wasilah (perantara) untuk meminta apa yang Anda inginkan kepada-Nya. Ini juga bisa Anda lakukan dengan Asmaul Husna dan sifat-Nya, ibadah wajib dan sunnah. Pokoknya, segala jenis ketaaatn bisa dijadikan wasilah. Contohnya: Anda ditimpa suatu penyakit. Kemudian Anda mengerjakan shalat sunnah dan berdoa setelahnya dengan mengatakan, “Ya Allah, saya berwasilah dengan amalan shaleh yang saya kerjakan, sembuhkanlah diriku.” 1)Dalil Naqly a)Pemberitahuan Allah Swt dalam berbagai firman-Nya, di antaranya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya.” [Al-Maidah: 35][14] b)Pemberitahun Rasulullah Saw dalam berbagai haditsnya, di antaranya: Tiga orang yang terkurung di dalam gua, kemudian salah satunya berkata kepada yang lainnya, “Lihatlah amal shaleh yang kalian kerjakan, maka berdoalah dengannya kepada Allah Swt, mudah-mudahan Dia akan melapangkannya bagi kalian. Berdoalah dan bertawassullah.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari] c)Para Rasul juga melakukan hal yang sama, dan ini menunjukkan bahwa ia adalah bagian dalam syariat. Dalam Al-Quran Al-Karim dijelaskan: “Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta’bir mimpi. (ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam Keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.” [Yusuf: 101][15] 2)Dalil ‘Aqly a)Allah Swt Maha Kaya, dan para hamba-Nya Maha Dhaif, sehingga mereka membutuhkan-Nya agar bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan, serta bisa selamat dari adzab-Nya. b)Wasilah hanya bisa didapatkan dari hal-hal yang disyariatkan oleh Allah Swt, karena kita tidak tahu apa saja yang dicintai-Nya dan dibenci-Nya kecuali melalui wahyu yang diturunkan-Nya kepada para Rasul-Nya. c)Jikalau Anda bertawassul dengan jasad Anda, maka ia bukanlah buatan Anda. Ia adalah ciptaan Allah Swt, yang akan mengalami kebusukan ketika Anda meninggal. Artinya, Anda harus bertawassul dengan amal shaleh yang Anda kerjakan, atau perkara-perkara lainnya yang disyariatkan-Nya. Pembahasan Kelima Belas: Wali Allah dan Karamahnya, Wali Setan dan Kesesatannya a)Wali Allah Swt Seorang muslim harus meyakini, bahwa Alah Swt telah memilih beberapa orang hamba-Nya sebagai wali yang benar-benar konsentrasi beribadah kepada-Nya, menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Mereka mencintai-Nya, dan Diapun mencintai mereka. Jikalau mereka meminta, maka Dia akan memberinya. Dan jikalau mereka meminta perlindungan, maka Dia akan memberikannya. Pada dasanya, setiap mukmin adalah wali-Nya. Hanya saja, tingkatan mereka berbeda-beda sesuai dengan kadar keimanan dan ketakwaannya. Pada tingkatan pertama ada para Nabi dan para Rasul, setelah itu barulah orang-orang mukmin sesuai dengan tingkat keimananan di dalam dadanya. Banyak sekali karamah yang dimiliki oleh wali Allah Swt, yang jikalau dimiliki para Nabi disebut dengan Mujizat. Contohnya, memperbanyak makanan dan minuman, selamat dari panasnya api, bisa menghidupkan orang mati, menyembuhkan orang yang sakit parah, dan sebagainya. Dalil Naqly a)Pemberitahuan Allah Swt dalam berbagai ayat-Nya tentang para wali-Nya dan karamah mereka, seperti: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (yaitu) Orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.” [Yunus: 62-64][16] b)Pemberitahun Rasulullah Saw dalam berbagai haditsnya, di antaranya: “Di antara hamba Allah Swt adalah orang yang jikalau bersumpah dengan-Nya, maka Dia akan mengabulkannya.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari] c)Berbagai kisah dan riwayat mengenai karamah para wali Allah Swt dari kalangan Sahabat, Tabiin dan para ulama setelahnya. Misalnya, ketika Salman Al-Farisy makan bersama Abu Ad-Darda’, maka piringnya bertasbih, atau makanan yang ada di dalam piring itu. 2)Wali Setan Jikalau sebelumnya ada wali Allah Swt, maka ada juga wali setan. Mereka adalah orang-orang yang jauh dari Allah Swt, tidak menjalankan perintah-Nya dan selalu melanggar larangan-Nya. Telinga mereka sudah pekak mendengarkan kebenaran, mata mereka sudah buta melihatnya, bahkan sudah tidak mengenal lagi apa itu kebenaran. Perkara yang batil dijadikannya haq, dan yang haq dijadikannya batil. Mereka selalu menentang para wali Allah Swt, memerangi mereka, memusuhi mereka, bahkan membunuh mereka. Merekalah orang-orang yang mendapatkan laknat di dunia dan di akhirat. a)Pemberitahun Allah Swt mengenai mereka dalam berbagai ayat-Nya, di antaranya: “Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” [Al-Baqarah: 257] b)Pemberitahun Rasulullah Saw dalam berbagai haditsnya, di antaranya: “Tidaklah salah seorang di antara kalian, kecuali ada qarinnya (jinnya),” [Diriwayatkan oleh Muslim] c)Kejadian-kejadian aneh yang diperlihatkan oleh para wali setan, yang disaksikan oleh Milyaran umat manusia, seperti menghadirkan makanan dan minuman secara tiba-tiba, bisa menghilang, terbang di udara, berjalan di atas air dan sebagainya. Pembahasan Keenam Belas: Mengimani Kewajiban Amar Maruf dan Nahi Mungkar 1)Kewajiban Amar Maruf dan Nahi Mungkar a)Dalil Naqly -Perintah Allah Swt dalam berbagai ayat-Nya, di antaranya: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” [Ali Imran: 104] -Pemberitahuan Allah Swt mengenai orang-orang yang menjadi para penolong-Nya dan wali-Nya dalam berbagai ayat-Nya, di antaranya: “(yaitu) Orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” [Al-Hajj: 41] -Perintah Rasulullah Saw dalam berbagai haditsnya, di antaranya: “Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka rubahlah dengan tangannya. Jikalau tidak mampu, maka dengan lisannya. Jikalau tidak mampu, maka dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman.” [Diriwayatkan oleh Muslim] -Pemberitahun Rasulullah Saw dalam berbagai haditsnya, di antaranya: “Tidaklah suatu kaum melakukan kemaksiatan, dan di antara mereka ada yang mampu mengingkarinya namun tidak melakukannya, kecuali hampir saja Allah Swt menimpa mereka semuanya dengan adzab-Nya.” [Diriwayatkan oleh Abu Daud] b)Dalil ‘Aqly -Jikalau badan sakit, kemudian tidak diobati, maka penyakitnya akan semakin parah. Begitu juga halnya dengan maksiat di dalam tubuh umat. Ia ibarat penyakit yang harus segera di obati. -Maksiat itu ibarat kotoran yang mengotori tubuh umat. Jikalau tidak dibersihkan, maka tubuhnya akan berpenyakit, bau, dan menjadi sarang berbagai kuman dan virus. -Nafsu manusia itu selalu condong kepada keburukan, sehingga harus ada Amar Maruf dan Nahi Mungkar yang meluruskannya. Jikalau dibiarkan, maka bisa jadi ia akan menjadi kebiasaan, dan lama-lama akan menjadi tradisi yang benar-benar sulit merubahnya. 2)Adab Amar Maruf dan Nahi Mungkar -Hendaklah Anda mengatahui, bahwa apa yang Anda perintahkan adalah Maruf dalam syariat, buakn sekedar dugaan saja. Dan apa yang Anda larang adalah mungkar dalam syariat. -Hendaklah Anda menjadi seseorang yang Wara’ (menjaga kesucian diri), yaitu tidak melakukan apa yang Anda larang. -Hendaklah melakukannya dengan santun, jangan kasar dan keras. -Jangan mencari-cari kemungkaran orang kain, karena itu masuk dalam kategori Tajassus dan membuat orang lain marah. -Hendaklah Anda terlebih dahulu memperkenalkan yang Maruf sebelum melarang kemungkaran, karena bisa jadi ia melakukan kemungkaran itu karena tidak mengetahuinya sama sekali. -Lakukanlah tahapan-tahapan dalam Amar Maruf, seperti dimulai nasehat mengenai ancaman dan janji Allah Swt. Jikalau tidak mempan juga, maka gunakanlah kata-kata yang sedikit keras. Jikalau tidak mampu juga, maka dengan tangannya. Jikalau tidak mampu juga, maka mintalah bantuan orang lain atau pemerintah. -Jikalau Anda tidak mampu merubah kemungkaran dengan tangan Anda atau lisan Anda, karena takut dengan ancaman yanga kan menima keluarga Anda atau harta Anda dan sebagainya, maka cukuplah dengan lisan saja. Pembahasan Ketujuh Belas: Mengimani Kewajiban Mencintai Para Sahabat Rasulullah Saw, Memuliakan para Imam Kaum Muslimin, dan Menaati Para Pemimpinnya. Seorang muslim harus meyakini, bahwa Allah Swt telah memuliakan para sahabat Rasulullah Saw dari sekalian umat muslim lainnya. Dan itu berdasarkan dahulu atau kemudiannya mereka masuk Islam. Semakin dahulu masuk Islam, maka semakin tinggi derajatnya. Secara umum, sahabat yang paling tinggi tingkatannya adalah para Khulafa’ Rasyidin: Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali, kemudian sepuluh orang sahabat yang dijanjikan masuk surga; selain empat orang khalifah, yang lainnya adalah Thalhah bin Ubaidillah, Az-Zubair bin Al-Awwam, Saad bin Abi Waqqash, Said bin Zaid, Abu Ubaidah bin Amir Al-Jarrah dan Abdurrahman bin Auf, kemudian orang-orang yang ikut dalam perang Badar, kemudian orang-orang yang diberitakan masuk surga selain yang sepuluh di atas, seperti Fathimah Az-Zahra’, Hasan dan Husain, Bilal bin Rabah dan lain-lain, kemudian para pengikut Baiatul Ridhwan. Selain itu, juga wajib menghormati para Imam dan ulama kaum muslimin, karena mereka adalah penerus risalah para Nabi, yang menerangi jalan umat ini dari kegelapan menuju cahaya yang terang-benderang. Sedangkan kepada para pemimpin kaum muslimin, maka mereka harus menaatinya. 1)Para sahabat Rasulullah Saw dan keluarganya: a-Anda harus mencintai mereka, karena Allah Swt dan Rasul-Nya juga mencintai mereka; sebagaimana firman-Nya: “Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.” [Al-Maidah: 54] b-Anda harus mengakui kemuliaan mereka; sebagaimana diakui oleh kaum muslimin semenjak zaman dahulu kala, karena Allah Swt sendiri juga memuji mereka dalam firman-Nya: “Mereka tidak memelihara (hubungan) kerabat terhadap orang-orang mukmin dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. Dan mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas.” [At-Taubah: 10] c-Anda harus meyakini, bahwa sahabat yang paling afdhal adalah Abu Bakar Shiddiq Radhiyallahu ‘Anhu, kemudian baru diikuti oleh Umar, Utsman, Ali dan seterusnya. d-Anda harus mengakui keistimewaan-keistimewaan yang mereka miliki, seperti kedudukan mulia Abu Bakar di sisi Rasulullah Saw, pujiannya terhadap Zubair bin Al-Awwam sebagai hawarynya, pujiannya terhadap Abdullah bin Umar sebagai laki-laki shaleh dan sebagainya. e-Anda tidak boleh mencaci mereka. Jikalau Anda perbedaan pendapat di kalangan mereka, Anda cukup diam saja. Rasulullah Saw bersabda: “Janganlah kalian mencela salah seorang sahabatku.” [Diriwayatkan oleh Abu Daud] f-Anda harus meyakini, bahwa Anda tidak boleh menikahi para istri Rasulullah Saw setelah wafatnya, karena mereka adalah ibu kaum mukminin. Allah Swt berfirman: “Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka.” [Al-Ahab: 6] 2)Para Imam kaum muslimin a)Anda harus mencintai mereka, menghormati mereka dan mengauki keagungannya di sisi Allah Swt. b)Tidak menyebutkan keburukan mereka. Cukuplah Anda memujinya dengan kebaikan. Jikalau ada kesalahan, maka maafkanlah dan tutupilah. c)Anda harus meyakini, bahwa pemikiran-pemikiran yang dihasilkan oleh Imam 4 Mazhab adalah berdasarkan Al-Quran dan Sunnah. Dan jikalau ada yang bertentangan, maka Anda harus mendahulukan kedua pondasi Islam ini. d)Istinbath-istinbath yang dihasilkan oleh para ulama dari hasil pemikiran dari Al-Quran dan Sunnah. Artinya, jikalau Anda mengamalkannya, maka Anda sudah mengamalkan keduanya. e)Jikalau mereka berbeda pendapat, maka Anda harus memahaminya bahwa semua itu berdasarkan ilmu. Anda tidak boleh nepotisme kepada salah satunya dan mencela yang lainnya. Ambillah pendapat yang berdasarkan Al-Quran dan Sunnah Shahihah. 3)Kepada para pemimpin kaum muslimin a-Selama mereka berada dalam jalan kebenaran, maka Anda wajib menaati mereka. Ini berdasarkan firman Allah Swt: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” [An-Nisa’: 59] b-Anda tidak boleh memberontak kepada mereka tanpa ada dasar syar’i yang membolehkannya, karena hal itu akan mengacaukan pemerintahan kaum muslimin. Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang membenci sesuatu dari pemimpinnya, maka bersabarlah, karena barangsiapa yang selangkah saja memberontak kepada amirnya, maka ia meninggal dalam keadaan jahiliyyah.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari] c-Sebagai rakyat, Anda harus mendoakan kebaikan bagi mereka. Pada hakikat, kebaikan yang mereka jalankan adalah demi rakyatnya juga. d-Jikalau ia menyeru Anda untuk berjihad, maka ikutlah bersamanya. Jikalau ia mengimami shalat, maka shalatlah di belakangnya. Selama ia tidak melakukan kekufuran yang nyata, maka kewajiban Anda tetap menaatinya. [1] Anda bisa mendapatinya dalam ayat-ayat lainnya, seperti Ad-Dukhan 7-8, Al-A’raf 172, Al-Mukminun 86-87, dan lain-lain. [2] Anda bisa juga mendapatkan penjelasan lainnya dalam surat Asy-Syu’ara 117-118, Ibrahim 35, Yusuf 101, Thaha 25-29, Thaha 90, Maryam 40, Al-Anbiya’ 89, Al-Maidah 117, dan Al-Maidah 72. [3] Anda juga bisa mendapatkannya dalam surat Al-Baqarah 163, Thaha 14, Muhammad 19, Al-Hasyr, 23. [4] Anda bisa juga mendapatkan pembahasa serupa dalam surat Al-A’raaf 14, dan Al-Anbiya’ 87 [5] Anda bisa juga mendapatkannya surat Al-Baqarah (98), An-Nisa’ (172), Al-Haqqah (17), Al-Mudattsir (31), Ar-Ra’dd (23-24) dan Al-Baqarah (30). [6] Anda juga bisa mendapatkan keterangannya dalam surat Al-Maidah (48), An-Nisa’ (163), Asy-Syu’ara (192-196), Al-A’la (18-19) [7] Anda bisa juga mendapatkan penjelasannya dalam surat Yusuf (3), An-Nisa (105), Al-Maidah (15-16), Al-Hijr (9), dan lain-lain. [8] Anda bisa juga mendapatkan penjelasan lainna dalam surat Al-Hajj (75), An-Nisa (163-165), Al-Hadid (25), Al-Anbiya’ (83), Al-Furqan (20), Al-Isra’ (101), Al-Ahzab (7). [9] Anda juga bisa mendapatkan penjelasannya dalam surat Ar-Rahman (26-27), At-Taghabun (7), Al-Muthaffifin (4-6), Asy-Syura (7), Az-Zalzalah (1-8), Al-An’am (158), An-Naml (82), Al-Anbiya’ (96-97), Az-Zukhruf (57-61), dan masih banyak yang lainnya… [10] Anda juga bisa mendapatkan penjelasannya dalam ayat lainnya, seperti surat Al-An’am (93-94), At-Taubah (101), Mukmin (46), Ibrahim (27) dan sebagainya. [11] Ada beberapa ayat lainnya yang membicarakan masalah serupa, seperti surat Al-Hijr (21), Al-Hadid (22), At-Taghabun (11), Al-Isra (13), At-Taubah (51), Al-An’am (59), At-Takwir (29), Al-Anbiya (101), Al-Kahfi (39), Al-A’raf (43), dan sebagainya… [12] Anda bisa mendapatkan penjelasan lebih lanjut dalam surat Al-Baqarah (40), Al-Baqarah (21-22), Muhammad (19), Fusshilat (36), At-Taghabun (13) dan sebagainya… [13] Anda bisa melihat juga surat Al-Baqarah (256), Al-Anbiya’ (25), Az-Zumar (64), Al-Fatihah (5), An-Nahl (2), dan lain-lain. [14] Anda juga bisa mendapatkan penjelasannya dalam surat Fathir (10), Al-Mukminun (51), Al-Anbiya’ (75), Al-Isra’ (57), Ali Imran (31), Ali Imran (53), Ali Imran (193), Al-A’raf (18), Al-‘Alaq (19), dan lain-lain. [15] Penjelasan lainnya bisa Anda dapatkan dalam surat Al-Anbiya’ (87), Al-Qashash (16), Ghafir (27), Al-Baqarah (127) dan Al-A’raf (23). [16] Anda bisa juga mendapatkan penjelasannya dalam surat Al-Baqarah (257), Al-Anfal (34), Al-A’raf (196), Yusuf (24), Al-Isra (65), Ali Imran (37), Ash-Shaffat (139-144), Maryam (24-26), Al-Anbiya (69-70), Al-Kahfi (9-12).

0 komentar:

Public Lecture with Dr. Zakir Naik

0 komentar:

Pemakan Riba Lebih Buruk dibanding Pecandu Khamar

Feb 15, 2017Muhammad Abduh Tuasikal, MScMuamalah0 Ada kisah menarik yang menunjukkan bagaimana ngerinya RIBA dibanding miras. Ibnu Bakir menceritakan bahwa ada seseorang yang pernah mendatangi Imam Malik bin Anas rahimahullah. Ia berkata, “Wahai Abu ‘Abdillah, aku pernah melihat seseorang mabuk lalu dia menjadi pecandu dan ingin bermain judi.” Lalu ia menyatakan, “(Kalau engkau bisa buktikan), istriku jadi tertalak jika memang ada yang masuk dalam rongga anak Adam yang lebih buruk daripada khamar.” Imam Malik menjawab, “Pulanglah sampai aku cari dahulu jawaban pertanyaanmu!” Keesokan harinya orang tersebut datang dan Imam Malik mengatakan jawaban seperti di atas. Setelah beberapa hari, orang tersebut mendatangi Imam Malik, lalu Imam Malik memberikan jawaban, “Istrimu jadi tertalak. Aku telah mencari dari seluruh ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah kutemukan sesuatu yang lebih parah yang masuk dalam rongga anak Adam selain riba.” Karena Allah telah menyatakan akan memerangi pemakan riba. (Tafsir Al-Qurthubi, 2: 237) Yang dimaksud oleh Imam Malik rahimahullah adalah ayat berikut, فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ “Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (QS. Al-Baqarah: 279) Moga jadi renungan! — Sore hari di Panggang, Gunungkidul, 18 Jumadal Ula 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Sumber : https://rumaysho.com/15362-makan-riba-lebih-buruh-dibanding-pecandu-khamar.html

1 komentar:

Dzikir Pagi

Dzikir pagi ini kak.... dibaca yaa kalau bisa dihafal kalau bisa lagi dibeli bukunya dzikir pagi petang, buat nambah bekal kita di akhirat, mumpung masih hidup kak.. kalau udah ninggal, ndak bisa lagi dzikir.. اَللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا، وَبِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِكَ نَحْيَا، وَبِكَ نَمُوْتُ وَإِلَيْكَ النُّشُوْرُ Allahumma bika ash-bahnaa wa bika amsaynaa wa bika nahyaa wa bika namuutu wa ilaikan nusyuur. Artinya: “Ya Allah, dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu pagi, dan dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu petang. Dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami hidup dan dengan kehendak-Mu kami mati. Dan kepada-Mu kebangkitan (bagi semua makhluk).” (Dibaca 1 x)

0 komentar:

Dari Web Rumaysho

Kata Imam Syafi’i, Tinggalkan Pendapatku Jika Menyelisihi Hadits May 26, 2012Muhammad Abduh Tuasikal, MScTeladan3 Imam Syafi Imam Syafii Imam Safii Hadits Imam Syafi Imam Syafei Ketika suatu pendapat manusia berseberangan dengan sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang harus kita dahulukan adalah pendapat Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak seperti sebagian orang ketika sudah disampaikan hadits shahih melarang ini dan itu atau memerintahkan pada sesuatu, eh dia malah mengatakan, “Tapi Pak Kyai saya bilang begini eh.” Ini beda dengan imam yang biasa jadi rujukan kaum muslimin di negeri kita. Ketika ada hadits shahih yang menyelisihi perkataannya, beliau memerintahkan untuk tetap mengikuti hadits tadi dan acuhkan pendapat beliau. Imam Asy Syafi’i berkata, إذَا صَحَّ الْحَدِيثُ فَاضْرِبُوا بِقَوْلِي الْحَائِطَ وَإِذَا رَأَيْت الْحُجَّةَ مَوْضُوعَةً عَلَى الطَّرِيقِ فَهِيَ قَوْلِي “Jika terdapat hadits yang shahih, maka lemparlah pendapatku ke dinding. Jika engkau melihat hujjah diletakkan di atas jalan, maka itulah pendapatku.”[1] Ar Rabie’ (murid Imam Syafi’i) bercerita, Ada seseorang yang bertanya kepada Imam Syafi’i tentang sebuah hadits, kemudian (setelah dijawab) orang itu bertanya, “Lalu bagaimana pendapatmu?”, maka gemetar dan beranglah Imam Syafi’i. Beliau berkata kepadanya, أَيُّ سَمَاءٍ تُظِلُّنِي وَأَيُّ أَرْضٍ تُقِلُّنِي إِذَا رَوَيْتُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ وَقُلْتُ بِغَيْرِهِ “Langit mana yang akan menaungiku, dan bumi mana yang akan kupijak kalau sampai kuriwayatkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian aku berpendapat lain…!?”[2] Imam Syafi’i juga berkata, إِذَا وَجَدْتُمْ فِي كِتَابِي خِلاَفَ سُنَّةِ رَسُولِ اللهِ فَقُولُوا بِسُنَّةِ رَسُولِ اللهِ وَدَعُوا مَا قُلْتُ -وفي رواية- فَاتَّبِعُوهَا وَلاَ تَلْتَفِتُوا إِلىَ قَوْلِ أَحَدٍ “Jika kalian mendapati dalam kitabku sesuatu yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sampaikanlah sunnah tadi dan tinggalkanlah pendapatku –dan dalam riwayat lain Imam Syafi’i mengatakan– maka ikutilah sunnah tadi dan jangan pedulikan ucapan orang.”[3] كُلُّ حَدِيثٍ عَنِ النَّبِيِّ فَهُوَ قَوْلِي وَإِنْ لَمْ تَسْمَعُوهُ مِنيِّ “Setiap hadits yang diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka itulah pendapatku meski kalian tak mendengarnya dariku.”[4] كُلُّ مَسْأَلَةٍ صَحَّ فِيْهَا الْخَبَرُ عَنْ رَسُولِ اللهِ عِنْدَ أَهْلِ النَّقْلِ بِخِلاَفِ مَا قُلْتُ فَأَناَ رَاجِعٌ عَنْهَا فِي حَيَاتِي وَبَعْدَ مَوْتِي “Setiap masalah yang di sana ada hadits shahihnya menurut para ahli hadits, lalu hadits tersebut bertentangan dengan pendapatku, maka aku menyatakan rujuk (meralat) dari pendapatku tadi baik semasa hidupku maupun sesudah matiku.”[5] إِذَا صَحَّ الْحَدِيثُ فَهُوَ مَذْهَبِي وَإِذَا صَحَّ الْحَدِيْثُ فَاضْرِبُوا بِقَوْلِي الْحَائِطَ “Kalau ada hadits shahih, maka itulah mazhabku, dan kalau ada hadits shahih maka campakkanlah pendapatku ke (balik) tembok.”[6] أَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ عَلىَ أَنَّ مَنِ اسْتَبَانَ لَهُ سُنَّةٌ عَنْ رَسُولِ اللهِ لَمْ يَحِلَّ لَهُ أَنْ يَدَعَهَا لِقَوْلِ أَحَدٍ “Kaum muslimin sepakat bahwa siapa saja yang telah jelas baginya sebuah sunnah (ajaran) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tak halal baginya untuk meninggalkan sunnah itu karena mengikuti pendapat siapa pun.”[7] Perkataan Imam Syafi’i di atas memiliki dasar dari dalil-dalil berikut ini di mana kita diperintahkan mengikuti Al Qur’an dan hadits dibanding perkataan lainnya. Allah Ta’ala berfirman, وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ “Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Rabbmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya” (QS. Az Zumar: 55). Sebaik-baik yang diturunkan kepada kita adalah Al Qur’an dan As Sunnah adalah penjelas dari Al Qur’an. الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ “Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal” (QS. Az Zumar: 18). Kita sepakati bersama bahwa Al Qur’an dan As Sunnah adalah sebaik-baik perkataan dibanding perkataan si fulan. وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (QS. Al Hasyr: 7). Dalam hadits Al ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehati para sahabat radhiyallahu ‘anhum, فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ “Berpegang teguhlah dengan sunnahku dan sunnah khulafa’ur rosyidin yang mendapatkan petunjuk (dalam ilmu dan amal). Pegang teguhlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian.”[8] Semoga kata-kata Imam Syafi’i di atas menjadi teladan bagi kita dalam berilmu dan beramal. Tidak membuat kita jadi fanatik dan taklid buta pada suatu madzhab. Boleh saja kita menjadikan madhzab Syafi’i sebagai jalan mudah dalam memahami hukum Islam. Namun ingat, ketika pendapat madzhab bertentangan dengan dalil, maka dahulukanlah dalil. Wallahu waliyyut taufiq. @ Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 5 Rajab 1433 H www.rumaysho.com Sumber : https://rumaysho.com/2472-kata-imam-syafii-tinggalkan-pendapatku-jika-menyelisihi-hadits.html

0 komentar:

info uii

Kami informasikan kepada seluruh pendaftar PMB UII terkait perubahan jadwal ujian Paper Based Test (PBT) Periode II yang akan dilaksanakan Minggu, 26 Maret 2017, pendaftaran PBT Periode II dilayani 6 – 25 Maret 2017. Sedangkan tenggat waktu penyerahan berkas untuk PSB Periode II dan PHA Periode I diubah menjadi tanggal 23 Maret 2017. Demikian pengumumaan ini kami sampaikan, mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Informasi perubahan jadwal selengkapnya, silakan klik web ini http://pmb.uii.ac.id/?page_id=1142 JANGAN MELAKUKAN RISWAH ATAU SOGOK ATAU SUAP KEPADA PIHAK YANG TIDAK BERWAJIB ATAU OKNUM DALAM PENERIMAAN MAHASISWA UII KARENA AKAN DIPROSES HUKUM>> DAN DIBLACKLIST SELAMANYA Panitia Penerimaan Mahasiswa Baru (PPMB) Gd. Muhammad Adnan (D3 Ekonomi – Lt.1), Kampus Terpadu UII, Jl. Kaliurang km. 14,5 Sleman, Yogyakarta 55584 T 0274-898444 ext. 1234 F 0274-898 459 E admisi@uii.ac.id TIKAR CERITA HANYA MEMBERI INFO SAJA GUNA MENYEBARLUASKAN INFO UII SEMOGA BERKAH TIDAK ADA KOMERSIAL DISINI

0 komentar:

INFO KAJIAN JOGJAKARTA DAN SEKITARNYA

JADWAL KAJIAN RUTIN SEKITAR KAMPUS JOGJA Bismillahi walhamdulillah Kini telah hadir kembali Poster Ayo Ngaji (jadwal kajian rutin di sekitar Jogja) Download versi PNG : https://goo.gl/4I5fR2 --- Untuk versi pdf : https://goo.gl/645r5b -- Dan untuk versi poster bisa diambil di sekretariat FKIM atau menghubungi : WA (082126597903) atau id line nizarhr41 📑Poster telah tercetak sebanyak 1800 eksemplar - Dibroadcast dengan sepenuh cinta oleh : *Divisi Media Forum Kajian Islam Mahasiswa* Kunjungi situs kami, muslim.or.id muslimah.or.id radiomuslim.com pedulimuslim.com sdityaabunayya.com *Forum Kajian Islam Mahasiswa* Akun social media kami: Faidah Ilmu Line : @wcl4781o Instagram & Twitter : @FaidahIlmu Facebook : Faidah Ilmu | FKIMJogja ------- Mari Bantu Share Ya.. *_Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda,_* ‎مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِفَاعِلِهِ " _Barangsiapa menunjukkan kepada kebaikan maka baginya pahala seperti pahala pelakunya_ ”. (HR.Muslim)

0 komentar:

Ceramah Ramadhan : The Excellence Of Reading Qur'an

0 komentar:

Mempersiapkan Generasi Penakluk Roma - Ust Budi Ashari, Lc

0 komentar:

Muzammil Hasballah Terbaru - Surat Ar Rahman

0 komentar:

Hukum Pria Memakai Pakaian Warna Kuning dan Merah

Hukum Pria Memakai Pakaian Warna Kuning dan Merah


Warna Yang Tidak Disukai Nabi Muhammad Warna Yang Tidak Disukai Nabi Muhammad Saw 3 Larangan Ketika Mengenakan Pakaian Warna Kesukaan Nabi Muhammad Warna Yang Dilarang Dalam Islam
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Beberapa hari di pikiran ini menemukan sedikit problema. Ketika kami mengajarkan kitab fiqh Asy Syaukani Ad Durorul Bahiyah, saat memasuki bahasan hal-hal yang semestinya dihindarkan ketika akan melaksanakan shalat, Asy Syaukani menyinggung masalah warna pakaian yang terlarang, di antaranya adalah pakaian warna kuning dan merah. Karena menemui kebuntuan dalam pikiran, kami berusaha mencari pembahasan yang memuaskan mengenai larangan tersebut. Hasil penelusuran kami inilah yang akan kami sajikan dalam tulisan kali ini. Semoga Allah memberikan kemudahan.
Hukum Asal Pakaian
Perlu diketahui suatu kaedah yang biasa disampaikan oleh para ulama, “Hukum asal pakaian adalah mubah (artinya: dibolehkan)”. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,
هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al Baqarah: 29)
Oleh karena itu, barangsiapa yang mengklaim bahwa pakaian warna tertentu itu haram atau terlarang dikenakan, tentu saja ia harus membawakan dalil. Jika tidak ada dalil, maka asalnya dibolehkan.
Tiga Warna Pakaian Pria yang Ditinjau
Para ulama berselisih pendapat mengenai hukum warna pakaian laki-laki dalam tiga masalah berikut.
  1. Warna merah polos yang tidak bercampur dengan warna lainnya. Sedangkan jika warna merah pada pakaian tersebut bercampur dengan warna lainnya, maka ini dibolehkan berdasarkan kesepakatan para ulama.
  2. Warna yang dicelup dengan ‘ushfur (sejenis tumbuhan dan menghasilkan warna merah secara dominan[1]). Adapun jika menghasilkan warna merah selain dengan ‘ushfur, maka termasuk dalam pembahasan nomor satu.
  3. Warna yang dicelup dengan za’faron (sejenis tumbuhan yang menghasilkan warna kuning). Adapun jika dicelup dengan warna kuning dari selain za’faron, seperti ini dibolehkan berdasarkan kesepakatan para ulama.[2]
'ushfurTanaman ‘ushfur (english: Safflower)
tanaman za'faronTanaman za’faron (english: Safron)
Pakaian yang Dicelup ‘Ushfur
Pakaian ini terlarang berdasarkan hadits-hadits berikut ini:
Hadits ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash,
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ حَدَّثَنِى أَبِى عَنْ يَحْيَى حَدَّثَنِى مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ الْحَارِثِ أَنَّ ابْنَ مَعْدَانَ أَخْبَرَهُ أَنَّ جُبَيْرَ بْنَ نُفَيْرٍ أَخْبَرَهُ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَخْبَرَهُ قَالَ رَأَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلَىَّ ثَوْبَيْنِ مُعَصْفَرَيْنِ فَقَالَ « إِنَّ هَذِهِ مِنْ ثِيَابِ الْكُفَّارِ فَلاَ تَلْبَسْهَا ».
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna; Telah menceritakan kepada kami Mu’adz bin Hisyam; Telah menceritakan kepadaku Bapakku dari Yahya; Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Ibrahim bin Al Harits; Bahwa Ibnu Ma’dan; Telah mengabarkan kepada kaminya, Jubair bin Nufair; Telah mengabarkan kepadanya, dan ‘Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash; Telah mengabarkan kepadanya, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat aku memakai dua potong pakaian yang dicelup ‘ushfur, lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya ini adalah pakaian orang-orang kafir, maka janganlah kamu memakainya.” (HR. Muslim no. 2077)
Dalam riwayat lainnya disebutkan,
حَدَّثَنَا دَاوُدُ بْنُ رُشَيْدٍ حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ أَيُّوبَ الْمَوْصِلِىُّ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ نَافِعٍ عَنْ سُلَيْمَانَ الأَحْوَلِ عَنْ طَاوُسٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ رَأَى النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- عَلَىَّ ثَوْبَيْنِ مُعَصْفَرَيْنِ فَقَالَ « أَأُمُّكَ أَمَرَتْكَ بِهَذَا ». قُلْتُ أَغْسِلُهُمَا. قَالَ « بَلْ أَحْرِقْهُمَا ».
Telah menceritakan kepada kami Daud bin Rusyaid; Telah menceritakan kepada kami ‘Umar bin Ayyub Al Mushili; Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Nafi’ dari Sulaiman Al Ahwal dari Thawus dari ‘Abdillah bin ‘Amru ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melihat saya sedang mengenakan dua potong pakaian yang dicelup ‘ushfur, maka beliau bersabda, “Apakah ibumu yang menyuruh seperti ini?” Aku berkata, “Aku akan mencucinya”. Beliau bersabda: ‘Jangan, akan tetapi bakarlah.’ (HR. Muslim no. 2077)
Hadits ‘Ali bin Abi Tholib,
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حُنَيْنٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَلِىِّ بْنِ أَبِى طَالِبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنْ لُبْسِ الْقَسِّىِّ وَالْمُعَصْفَرِ وَعَنْ تَخَتُّمِ الذَّهَبِ وَعَنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ فِى الرُّكُوعِ.
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya ia berkata; ‘Aku membaca Hadits Malik dari Nafi’ dari Ibrahim bin ‘Abdullah bin Hunain dari Bapaknya dari ‘Ali bin Abi Thalib, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang berpakaian yang dibordir (disulam) dengan sutera, memakai pakaian yang dicelup ‘ushfur, memakai cincin emas, dan membaca Al Qur’an saat ruku’.” (HR. Muslim no. 2078)
Para ulama berselisih pendapat mengenai pakaian yang dicelup ‘ushfur. Mayoritas ulama dari kalangan sahabat, tabi’in dan ulama sesudahnya membolehkan mengenakan pakaian semacam itu. Pendapat ini juga dipilih oleh Imam Asy Syafi’i, Imam Abu Hanifah, dan Imam Malik. Akan tetapi, Imam Malik berkata bahwa lebih baik selain pakaian tersebut. Sekelompok ulama lainnya memakruhkannya karena larangan yang dimaksudkan dibawa kepada hadits di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengenakan pakaian hullah hamro’ (pakaian berwarna merah). Sebagaimana Al Barro’ bin ‘Azib berkata,
كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – مَرْبُوعًا ، وَقَدْ رَأَيْتُهُ فِى حُلَّةٍ حَمْرَاءَ مَا رَأَيْتُ شَيْئًا أَحْسَنَ مِنْهُ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang laki-laki yang berperawakan sedang (tidak tinggi dan tidak pendek), saya melihat beliau mengenakan pakaian merah, dan saya tidak pernah melihat orang yang lebih bagus dari beliau” (HR. Bukhari no. 5848)
Dalam riwayat Muslim, Al Barro’ bin ‘Azib mengatakan,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- رَجُلاً مَرْبُوعًا بَعِيدَ مَا بَيْنَ الْمَنْكِبَيْنِ عَظِيمَ الْجُمَّةِ إِلَى شَحْمَةِ أُذُنَيْهِ عَلَيْهِ حُلَّةٌ حَمْرَاءُ مَا رَأَيْتُ شَيْئًا قَطُّ أَحْسَنَ مِنْهُ -صلى الله عليه وسلم-.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu berperawakan sedang, perpundak bidang, rambutnya lebat terurai ke bahu hingga sampai kedua cuping telinganya. Pada suatu ketika, beliau pernah mengenakan pakaian berwarna merah, tidak ada seorangpun yang lebih tampan dari beliau (HR. Muslim no. 2337)
Juga ada riwayat dari Ibnu ‘Umar yang menceritakan,
وَأَمَّا الصُّفْرَةُ فَإِنِّى رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَصْبُغُ بِهَا ، فَأَنَا أُحِبُّ أَنْ أَصْبُغَ بِهَا
Adapun warna kuning, maka sungguh aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencelup dengannya. Aku pun senang mencelup dengan warna tersebut.” (HR. Bukhari no. 5851 dan Muslim no. 1187)
Sebagian ulama memaksudkan larangan pakaian yang dicelup ‘ushfur adalah larangan bagi orang yang berihrom dengan haji atau umroh sebagaimana maksud dari hadits Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma.
Al Baihaqi mengatakan, “Imam Asy Syafi’i melarang memakai pakaian yang dicelup za’faron dan membolehkan pakaian yang dicelup ‘ushfur. Imam Asy Syafi’i mengatakan, “Pakaian yang dicelup ‘ushfur diberi keringanan karena aku belum mendapati dalil larangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang masalah ini kecuali riwayat dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu yang menyatakan bahwa beliau dilarang menggunakan pakaian semacam itu. Sedangkan dalam hadits tersebut tidak dikatakan, “Kalian telah dilarang”. Al Baihaqi lantas mengatakan, “Telah datang dalil tegas yang melarang (pakaian yang dicelup ‘ushfur) secara umum. Juga terdapat hadits dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash yang dikeluarkan oleh Imam Muslim yang melarang pakaian semacam itu.” Al Baihaqi lantas menegaskan,
وَلَوْ بَلَغَتْ هَذِهِ الْأَحَادِيث الشَّافِعِيّ لَقَالَ بِهَا إِنْ شَاءَ اللَّه
“Seandainya hadits-hadits (yang melarang pakaian yang dicelup ‘ushfur) sampai pada Imam Asy Syafi’i tentu beliau akan menjadikannya sebagai dalil, insya Allah.”
Terdapat riwayat shahih dari Imam Asy Syafi’i, beliau sendiri mengatakan,
إِذَا كَانَ حَدِيث النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خِلَاف قَوْلِي فَاعْمَلُوا بِالْحَدِيثِ ، وَدَعُوا قَوْلِي ، وَفِي رِوَايَة : فَهُوَ مَذْهَبِي
“Jika ada hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyelisihi pendapatku, maka beramallah dengan hadits tersebut dan tinggalkanlah pendapatku.” Dalam riwayat disebutkan, “Pendapat (yang sesuai hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) tersebut itulah sebenarnya yang jadi pendapatku.”[3]
Pendapat yang tepat dalam masalah ini adalah bahwa memakai pakaian yang dicelup ‘ushfur adalah haram karena hukum asal larangan (dalam hadits) adalah haram. Adapun baju merah yang dikenakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka merah pada baju tersebut bukan karena menggunakan ‘ushfur namun karena dicelup warna merah dengan zat selain ‘ushfur.[4]
Pakaian yang Dicelup Za’faron
Mengenai larangan menggunakan pakaian yang dicelup za’faron disebutkan dalam hadits Anas yang muttafaqun ‘alaih (dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim). Anas berkata,
نَهَى النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَنْ يَتَزَعْفَرَ الرَّجُلُ
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang laki-laki mencelup dengan za’faran.” (HR. Bukhari no. 5846 dan Muslim no. 2101)
Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin mengatakan, “Pendapat yang tepat, haram memamai pakaian yang dicelup ‘ushfur, begitu pula za’faron”.[5]
Sebagaimana dinukil oleh Al Baihaqi, Imam Asy Syafi’i mengatakan, “Aku melarang laki-laki mengenakan pakaian yang dicelup za’faron. Jika pakaiannya seperti itu, aku perintahkan untuk dicuci.” Al Baihaqi lantas mengatakan, “Jika beliau mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam larangan pakaian yang dicelup za’faron, maka untuk larangan pakaian yang dicelup ‘ushfur lebih pantas untuk diikuti.”[6]
Pakaian yang Bercorak Merah atau Kuning
Mengenai pakaian yang tidak polos merah atau kuning (bercorak dicampur dengan warna lain), dibolehkan berdasarkan kesepakatan para ulama. Sebagaimana dikatakan oleh An Nawawi rahimahullah,
يجوز لبس الثوب الابيض والاحمر والاصفر والاخضر والمخطط وغيرها من ألوان الثياب ولا خلاف في هذا ولا كراهة في شئ منه قال الشافعي والاصحاب وأفضلها البيض
“Boleh menggunakan pakaian yang bergaris merah, kuning, hijau dan warna pakaian yang bercorak lainnya. Hal ini berdasarkan kesepakatan (ijma’) para ulama. Warna pakaian yang bercorak semacam itu tidaklah makruh sedikit pun. Inilah yang dikatakan oleh Imam Asy Syafi’i dan pengikutnya. Namun yang paling afdhol adalah mengenakan pakaian berwarna putih.”[7]
Bolehkah Memakai Pakaian Berwarna Kuning?
Jawabannya, asalnya boleh. Hal ini berdasarkan kesepakatan para ulama karena pakaian kuning yang  terlarang apabila merupakan hasil celupan za’faron atau ‘ushfur sebagaimana disebutkan dalam penjelasan di atas.
Dalam Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah disebutkan,
اتّفق الفقهاء على جواز لبس الأصفر ما لم يكن معصفراً أو مزعفراً
“Para pakar fiqih sepakat dibolehkannya memakai pakaian berwarna kuning asalkan bukan hasil dari celupan ‘ushfur atau za’faron.”[8]
Dari sini, jika pakaian kuning berasal dari zat warna sintetik seperti pada pakaian yang kita temukan saat ini, maka seperti itu tidaklah masalah. Wallahu a’lam.
Sedangkan sebagian orang menerjemahkan pakaian “mua’shfar” (yang dicelup ‘ushfur) dengan artian pakaian warna kuning, kami rasa ini keliru, karena ‘ushfur lebih dominan menghasilkan warna merah. Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan,
فَإِنَّ غَالِب مَا يُصْبَغ بِالْعُصْفُرِ يَكُون أَحْمَر
“Warna dominan yang dihasilkan oleh ‘ushfur adalah warna merah.”[9]
Bagaimana dengan Pakaian Merah Polos?
Ada dua macam dalil yang membicarakan masalah ini. Ada yang membolehkan dan ada yang melarang.
Dalil yang melarang pakaian berwarna merah:
Hadits Al Baro’ bin ‘Azib, ia berkata,
نَهَانَا النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – عَنِ الْمَيَاثِرِ الْحُمْرِ وَالْقَسِّىِّ
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami mengenakan ranjang (yang lembut) yang berwarna merah dan qasiy (pakaian yang bercorak sutera).” (HR. Bukhari no. 5838)
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,
نُهِيتُ عَنْ الثَّوْبِ الْأَحْمَرِ وَخَاتَمِ الذَّهَبِ وَأَنْ أَقْرَأَ وَأَنَا رَاكِعٌ
Aku dilarang untuk memakai kain yang berwarna merah, memakai cincin emas dan membaca Al-Qur’an saat rukuk.” (HR. An Nasai no. 5266. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)
Dalil yang membolehkan pakaian berwarna merah:
Hadits Al Barro’ bin ‘Azib, ia berkata,
كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – مَرْبُوعًا ، وَقَدْ رَأَيْتُهُ فِى حُلَّةٍ حَمْرَاءَ مَا رَأَيْتُ شَيْئًا أَحْسَنَ مِنْهُ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang laki-laki yang berperawakan sedang (tidak tinggi dan tidak pendek), saya melihat beliau mengenakan pakaian (hullah) merah, dan saya tidak pernah melihat orang yang lebih bagus dari beliau” (HR. Bukhari no. 5848)
Dalam riwayat Muslim, Al Barro’ bin ‘Azib mengatakan,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- رَجُلاً مَرْبُوعًا بَعِيدَ مَا بَيْنَ الْمَنْكِبَيْنِ عَظِيمَ الْجُمَّةِ إِلَى شَحْمَةِ أُذُنَيْهِ عَلَيْهِ حُلَّةٌ حَمْرَاءُ مَا رَأَيْتُ شَيْئًا قَطُّ أَحْسَنَ مِنْهُ -صلى الله عليه وسلم-.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu berperawakan sedang, perpundak bidang, rambutnya lebat terurai ke bahu hingga sampai kedua cuping telinganya. Pada suatu ketika, beliau pernah mengenakan pakaian (hullah) berwarna merah, tidak ada seorangpun yang lebih tampan dari beliau (HR. Muslim no. 2337)
Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata,
كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يلبس يوم العيد بردة حمراء
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengenakan burdah (kain bergaris) berwarna merah ketika shalat ‘ied.[10]
Dalil-dalil yang menyebutkan bolehnya pakaian berwarna merah  di sana menggunakan kata “hullah” dan “burdah”. Perlu diketahui bahwa yang dimaksud burdah dan hullah adalah pakaian yang bergaris merah dan bukan pakaian merah polos.
Ibnul Qayyim mengatakan,
كَانَ بَعْض الْعُلَمَاء يَلْبَس ثَوْبًا مُشْبَعًا بِالْحُمْرَةِ يَزْعُم أَنَّهُ يَتْبَع السُّنَّة ، وَهُوَ غَلَط ، فَإِنَّ الْحُلَّة الْحَمْرَاء مِنْ بُرُود الْيَمَن وَالْبُرْد لَا يُصْبَغ أَحْمَر صِرْفًا
“Sebagian ulama ada yang memakai pakaian merah polos (merah seluruhnya) dan menganggapnya sebagai sunnah. Sungguh ini adalah keliru. Yang dimaksud “hullah” berwarna merah adalah burdah (pakaian bergaris) dari Yaman dan burdah di sini bukanlah pakaian yang dicelup sehingga berwarna merah polos (merah keseluruhan).”[11]
Sehingga yang tepat dalam masalah ini, pria boleh menggunakan pakaian berwarna merah asalkan tidak polos (tidak seluruhnya berwarna merah). Namun jika pakaian tersebut seluruhnya merah, maka inilah yang terlarang. Inilah pendapat yang lebih hati-hati dan lebih selamat dari khilaf (perselisihan) ulama.
Sedangkan untuk wanita boleh menggunakan pakaian dengan warna apa saja asalkan bukan warna yang nantinya akan menjadi perhiasan diri di hadapan non mahrom.[12] Adapun yang kita bicarakan pada kesempatan kali ini adalah warna pakaian terlarang bagi pria.
Alhamdulillah, berkat taufik Allah kami diberikan kemudahan mendapatkan titik terang dalam masalah ini. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

Diselesaikan menjelang Jum’atan di Panggang-GK, 26 Rajab 1431 H (09/07/2010)
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal


[1] Lihat Fathul Bari, 10/305.
[2] Tulisan ini, kami banyak ambil faedah dari penjelasan Syaikh Sholih Al Munajjid hafizhohullah dalam situsnya Al Islam Sual wa Jawab (http://islamqa.com/ar/ref/72878 dan http://islamqa.com/ar/ref/8341 )
[3] Lihat penjelasan di atas sampai dengan perkataan Al Baihaqi dan Imam Asy Syafi’i dalam Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 14/54-55.
[4] Ma’alimus Sunan, 4/179.
[5] Syarhul Mumthi’, 2/218.
[6] Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 14/55.
[7] Al Majmu’, 4/452.
[8] Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 2/2051.
[9] Lihat Fathul Bari, 10/305.
[10] Diriwayatkan oleh Ath Thobroni dalam Al Awsath (7/316).  Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid (2/233-234) mengatakan bahwa perowinya tsiqoh.
[11] Fathul Bari, 16/415.
[12] Lihat penjelasan Ibnu ‘Abdil Barr dalam At Tamhid (16/123).


Sumber : https://rumaysho.com/1133-hukum-pria-memakai-pakaian-warna-kuning-dan-merah.html

0 komentar:

Copyright © 2013 Tikar Cerita